
PURWAKARTA, RAKA – Kondisi bangunan SDN 1 Parung Banteng di Kampung Cigorowek, Desa Parung Banteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, masih dikeluhkan orang tua murid.
Sejumlah bagian bangunan yang digunakan siswa kelas 1 hingga kelas 3 itu terlihat mengalami kerusakan. Pada beberapa pilar, lapisan permukaan terkelupas hingga bagian rangka baja di dalamnya terlihat.
Kerusakan juga ditemukan pada tembok penahan tanah (TPT) yang berada di depan ruang kelas. Sementara fasilitas toilet sekolah tampak kurang terawat dengan kondisi pintu yang rusak dan tidak terpasang.
Kondisi tersebut membuat orang tua murid khawatir, terlebih bangunan itu setiap hari digunakan anak-anak untuk kegiatan belajar.
Orang tua murid, Oji, mengatakan kondisi kerusakan bangunan telah menjadi perhatian sejak beberapa tahun terakhir.
Menurut dia, kerusakan mulai terlihat sekitar 2023. Pada 2025, kondisi tersebut kembali menjadi perhatian setelah bagian lantai ruang kelas ditemukan berlubang.
“ Kemungkinan kerusakan mulai terjadi dari tahun 2023, penyebabnya kemungkinan dari struktur bangunan yang kurang memadai karena banyak yang sudah mengelupas,” ujar Oji, Senin (24/8/2026).
Bagian lantai yang berlubang kini telah diperbaiki. Namun, sejumlah bagian lain seperti pilar, TPT, dan toilet masih membutuhkan penanganan.
Bangunan SDN 1 Parung Banteng di Kampung Cigorowek memiliki fungsi penting bagi warga setempat.
Lokasinya yang berada di kawasan permukiman membuat anak-anak di kampung tersebut tidak perlu langsung menempuh perjalanan jauh menuju bangunan utama sekolah.
Oji mengatakan terdapat dua ruang kelas yang digunakan untuk menampung siswa kelas 1 hingga kelas 3.
“Cuma ada dua kelas itu untuk kelas 1 sampai kelas 3,” katanya.
Setelah menyelesaikan kelas 3, siswa kemudian melanjutkan pendidikan di bangunan utama SDN 1 Parung Banteng.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena siswa yang melanjutkan ke sekolah induk harus menempuh perjalanan cukup jauh, termasuk dengan berjalan kaki.
“Saat nanti beres dari kelas 3 anak-anak sudah cukup dewasa secara otomatis langsung pindah ke sekolah induk dan harus jalan kaki lumayan jauh,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta Sadiyah menjelaskan, bangunan sekolah di Kampung Cigorowek bukan merupakan kelas jauh.
Menurut dia, bangunan tersebut tetap menjadi bagian dari SDN 1 Parung Banteng meskipun lokasi fisiknya terpisah dari bangunan utama.
“Kelas tersebut bukan merupakan kelas jauh dari SDN 1 Parung Banteng, masih satu dengan SDN 1 Parung Banteng walaupun memang bangunannya secara terpisah,” kata Sadiyah.
Ia menjelaskan, pembangunan fasilitas tersebut dilakukan untuk mendekatkan akses pendidikan kepada masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.
Selain warga Purwakarta, kata Sadiyah, terdapat pula siswa yang berasal dari wilayah Kabupaten Cianjur yang bersekolah di bangunan tersebut.
“Selain dari warga Purwakarta banyak juga warga dari Kabupaten Cianjur yang bersekolah di sekolah tersebut,” ujarnya.
Sadiyah membenarkan bahwa bangunan terpisah tersebut memang diperuntukkan bagi siswa kelas 1 sampai kelas 3.
Menanggapi kondisi bangunan yang dikeluhkan orang tua murid, Sadiyah mengatakan pemerintah telah memasukkan sekolah tersebut dalam rencana revitalisasi.
Namun, perbaikan tidak dilakukan pada 2026. Program revitalisasi bangunan SDN 1 Parung Banteng tersebut baru masuk dalam anggaran tahun 2027.
“Untuk sekolah tersebut saat ini sudah masuk ke anggaran revitalisasi pada tahun 2027,” kata Sadiyah.
Bagi orang tua murid, rencana revitalisasi tersebut menjadi harapan agar kondisi bangunan segera mendapatkan penanganan.
Oji mengaku khawatir kerusakan yang terlihat pada sejumlah bagian bangunan dapat berdampak terhadap keselamatan siswa yang setiap hari beraktivitas di dalamnya.
“Saya selaku orang tua murid sangat khawatir dengan kondisi bangunan, anak saya sekolah di situ sekarang kelas 2,” ujarnya. (yat)



