STAI EZ Muttaqien Purwakarta Tak Sekadar Cetak Lulusan, Ada Misi Besar Setelah Wisuda

PURWAKARTA, RAKA – Wisuda bukan sekadar momentum mengenakan toga, menerima ijazah, lalu meninggalkan kampus.
Bagi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Dr. KH. EZ Muttaqien Purwakarta, wisuda justru menjadi titik awal untuk melihat sejauh mana pendidikan mampu memberi dampak setelah mahasiswa kembali ke tengah masyarakat.
Pesan itu mengemuka dalam Wisuda Sarjana ke-34 dan Magister ke-9 STAI Dr. KH. EZ Muttaqien yang digelar di Hotel Plaza Purwakarta, Sabtu (29/8/2026).
Sebanyak 165 wisudawan resmi menyelesaikan pendidikan mereka. Rinciannya, 150 lulusan program sarjana dan 15 lulusan program magister.
Yang menarik, sebanyak 159 wisudawan berhasil meraih predikat cumlaude.Capaian tersebut menjadi salah satu gambaran hasil proses pendidikan yang berlangsung di lingkungan STAI Dr. KH. EZ Muttaqien.
Namun, kampus tidak ingin keberhasilan tersebut berhenti pada angka maupun predikat akademik.Bagi STAI Dr. KH. EZ Muttaqien, keberhasilan pendidikan baru benar-benar terlihat ketika ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah mampu diterapkan dalam kehidupan nyata.
Ketua Panitia Wisuda Ahmad Arifudin Hilmi, M.Pd., mengatakan momentum wisuda seharusnya tidak dimaknai sebatas seremoni akademik.
Wisuda merupakan fase peralihan bagi mahasiswa untuk membawa pengetahuan, pengalaman dan nilai yang diperoleh selama menjalani pendidikan ke lingkungan yang lebih luas.
Artinya, gelar akademik bukan menjadi garis akhir, melainkan bekal untuk memasuki dunia profesional sekaligus menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
Pandangan tersebut menjadi penting di tengah tuntutan pendidikan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik, tetapi juga individu yang mampu beradaptasi, berpikir kritis, berkomunikasi dan memberikan solusi atas persoalan di lingkungannya.
Sebanyak 150 lulusan sarjana yang diwisuda tahun ini berasal dari berbagai program studi.
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi penyumbang lulusan terbanyak dengan 65 orang.
Kemudian Hukum Keluarga Islam (HKI) sebanyak 21 orang, Ekonomi Syariah (EKOS) 13 orang, Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) 20 orang, Pendidikan Bahasa Arab (PBA) 17 orang, serta Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) sebanyak 14 orang.
Sementara itu, 15 mahasiswa lainnya merupakan lulusan program magister.Keragaman bidang tersebut menjadi modal bagi STAI Dr. KH. EZ Muttaqien untuk menghadirkan lulusan dengan kompetensi yang dapat mengisi berbagai ruang kehidupan masyarakat.
Mulai dari pendidikan, hukum keluarga, ekonomi syariah, komunikasi, bahasa Arab hingga pendidikan anak usia dini.STAI Dr. KH. EZ Muttaqien juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang memiliki prestasi akademik maupun nonakademik.
Salah satu capaian akademik ditunjukkan melalui keterlibatan mahasiswa sebagai presenter dalam prosiding internasional.
Sementara dari sisi nonakademik, terdapat mahasiswa yang mendapatkan apresiasi karena kiprahnya sebagai Voluntir Pendekar Anak UNICEF.Capaian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya berlangsung melalui aktivitas perkuliahan.
Mahasiswa juga perlu diberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan di luar kelas, termasuk berpartisipasi dalam forum ilmiah maupun kegiatan sosial.
Dari sinilah pendidikan diharapkan melahirkan lulusan yang tidak hanya mampu menjawab soal ujian, tetapi juga mampu membaca persoalan di lingkungan sekitarnya.
Prosesi wisuda turut dihadiri Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzen atau Om Zein, Sekretaris Bidang Kemahasiswaan Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Islam (Kopertais) Wilayah II Jawa Barat Wildan Baihaqi, S.Ag., M.Ag., unsur Forkopimda, jajaran OPD Kabupaten Purwakarta, perwakilan perguruan tinggi se-Kabupaten Purwakarta, organisasi profesi serta sejumlah organisasi dan lembaga mitra STAI Dr. KH. EZ Muttaqien.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi tidak dapat berjalan sendiri.Perguruan tinggi membutuhkan hubungan yang kuat dengan pemerintah, dunia profesi, masyarakat dan berbagai lembaga untuk memastikan pendidikan tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Karena itu, keberadaan lulusan di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari keberlanjutan proses pendidikan yang berlangsung di kampus.
Wisuda tahun ini juga berlangsung dalam suasana berbeda bagi keluarga besar STAI Dr. KH. EZ Muttaqien.Civitas akademika masih berada dalam suasana duka setelah Prof. Dr. KH. Sanusi Uwes, M.Pd., wafat pada Jumat (21/8/2026) pukul 19.40 WIB.Almarhum merupakan pendiri Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Dr. KH. EZ Muttaqien, sekaligus pendiri STAI Dr. KH. EZ Muttaqien dan Universitas Islam Dr. KH. EZ Muttaqien.
Kepergian sosok yang memiliki peran penting dalam perjalanan lembaga tersebut menjadi catatan tersendiri dalam pelaksanaan wisuda.Di satu sisi, kampus merayakan lahirnya generasi baru lulusan.
Di sisi lain, keluarga besar lembaga pendidikan tersebut kehilangan salah satu tokoh yang meletakkan dasar berdirinya institusi.Warisan seorang pendiri perguruan tinggi pada akhirnya tidak hanya berupa gedung atau institusi.
Warisan itu juga dapat dilihat dari tradisi keilmuan, nilai pendidikan dan generasi yang terus melanjutkan gagasan melalui ilmu serta pengabdian.
Dengan 165 mahasiswa yang kini resmi menyandang gelar akademik, pekerjaan STAI Dr. KH. EZ Muttaqien tidak serta-merta berakhir ketika prosesi wisuda selesai.Justru dari titik tersebut, keberhasilan pendidikan mulai diuji.
Apakah lulusan mampu menggunakan ilmunya? Apakah mereka mampu beradaptasi dengan perubahan? Dan yang paling penting, apakah kehadiran mereka dapat memberikan manfaat bagi masyarakat?Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari tantangan pendidikan tinggi saat ini.
Sebanyak 159 lulusan yang meraih predikat cumlaude tentu menjadi kebanggaan bagi kampus. Tetapi prestasi akademik tersebut diharapkan menjadi modal awal, bukan tujuan akhir.
STAI Dr. KH. EZ Muttaqien ingin pendidikan yang diberikan di kampus dapat diteruskan melalui karya dan pengabdian setelah para lulusan kembali ke lingkungan masing-masing.
Sebab, pada akhirnya, kampus tidak hanya dinilai dari berapa banyak mahasiswa yang berhasil diwisuda, tetapi juga dari seberapa besar dampak yang diberikan para alumninya setelah mereka kembali ke masyarakat.
Dan di situlah makna sebenarnya dari sebuah perjalanan pendidikan: gelar boleh selesai disematkan, tetapi proses belajar dan pengabdian tidak pernah benar-benar berakhir.(yat)


