Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
Purwakarta
Trending

Abu Vulkanik di Purwakarta Aman Bagi Petani, Ini Faktanya!

PURWAKARTA, RAKA – Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang sampai ke Kabupaten Purwakarta sempat memunculkan kekhawatiran di kalangan petani. Namun, Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Purwakarta memastikan kondisi tanaman pertanian hingga perkebunan masih aman.

Bahkan, material vulkanik yang terbawa angin hingga Purwakarta dalam kondisi tertentu justru berpotensi memberikan manfaat bagi tanah. Kandungan mineral dan unsur hara di dalam abu vulkanik disebut dapat membantu memperbaiki kondisi tanah.

Kepala UPTD Pelindungan Tanaman (Perlintan) Dispangtan Kabupaten Purwakarta, Wawan Hermawan, mengatakan abu vulkanik memang memiliki dampak positif maupun negatif terhadap lingkungan dan tanaman.

Namun, kondisi abu vulkanik yang sampai ke Purwakarta saat ini dinilai masih berada pada tingkat yang tidak mengkhawatirkan bagi sektor pertanian.

“Sebetulnya abu vulkanik itu ada dampak negatif maupun positifnya. Alhamdulillah, yang diterima di Purwakarta lebih kepada sisi positifnya. Di dalam debu vulkanik terdapat unsur-unsur hara yang dapat membantu menyuburkan tanaman,” ujar Wawan, Senin (7/9/2026).

Wawan meminta petani tidak mengambil keputusan terburu-buru hanya karena munculnya abu vulkanik. Menurutnya, petani tidak perlu menunda kegiatan pertanian maupun mengubah pola tanam selama kondisi di lapangan masih aman.

Sebaran abu vulkanik yang terjadi saat ini juga dinilai memiliki waktu paparan yang terbatas. Karena itu, kondisi tersebut berbeda dengan bencana erupsi yang berlangsung dalam waktu panjang.

“Kami mengimbau kepada para petani agar jangan sampai terbawa isu bahwa dengan adanya abu vulkanik harus menunda tanam atau mengubah pola tanam. Tidak perlu, karena kondisi penyebaran abu vulkanik ini waktunya terbatas,” tegasnya.

Menurut Wawan, dampak abu vulkanik terhadap tanaman sangat bergantung pada ketebalan material yang menempel serta berapa lama tanaman terpapar.

Semakin tebal lapisan abu dan semakin lama paparan berlangsung, semakin besar pula perhatian yang dibutuhkan terhadap kondisi tanaman.

Salah satu faktor yang membuat kondisi di Purwakarta relatif aman adalah jaraknya dari sumber erupsi. Abu vulkanik yang terbawa hingga wilayah Purwakarta sudah tidak berada dalam kondisi panas yang dapat merusak daun tanaman.

“Karena Purwakarta jaraknya cukup jauh, abu vulkanik yang sampai ke sini sudah tidak mengandung panas yang dapat merugikan daun tanaman. Dengan batasan ketebalan dan lamanya paparan, kondisi yang terjadi saat ini justru dapat memberikan manfaat terhadap tanah,” ungkap Wawan.

Material vulkanik tersebut, lanjut dia, dapat berkontribusi terhadap perbaikan sifat dan struktur tanah. Salah satunya melalui proses pertukaran kation yang berkaitan dengan ketersediaan unsur hara.

Abu vulkanik juga berpotensi membantu memperbaiki porositas tanah, sehingga sirkulasi air dan udara di dalam tanah dapat menjadi lebih baik.

“Abu vulkanik itu bisa membantu memperbaiki kondisi tanah. Tanah yang sebelumnya kurang poros atau cenderung kedap air dapat menjadi lebih berpori, sehingga kondisi tanah menjadi lebih baik bagi tanaman,” jelasnya.

Manfaat lain yang disebut Wawan berkaitan dengan perlindungan tanaman. Abu vulkanik memiliki sejumlah kandungan mineral yang dalam kondisi tertentu berpotensi membantu menekan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Salah satunya adalah sulfur atau belerang. Kandungan tersebut dapat menciptakan kondisi yang kurang disukai oleh sejumlah hama dan organisme pengganggu tanaman.

“Untuk pelindungan tanaman, abu vulkanik juga bisa membantu menekan hama dan penyakit. Misalnya, terdapat kandungan seperti belerang yang tidak disukai oleh sejumlah hama dan organisme pengganggu tanaman,” katanya.

Meski begitu, kondisi tersebut tidak berarti seluruh abu vulkanik selalu memberikan dampak positif. Ketebalan material dan durasi paparan tetap menjadi faktor penting yang harus diperhatikan.

Wawan juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan kondisi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini dengan erupsi Gunung Galunggung pada 1982.

Peristiwa erupsi Galunggung berlangsung dalam waktu yang jauh lebih lama sehingga memberikan dampak besar terhadap sektor pertanian di sejumlah wilayah.

Salah satu dampaknya terjadi terhadap komoditas unggulan di Garut. Wawan menyebut tanaman jeruk Garut saat itu ikut terdampak hingga mengalami kemusnahan.

“Berbeda dengan kejadian tahun 1982 saat Gunung Galunggung erupsi. Karena berlangsung lama, ada komoditas unggulan di Garut yang sampai musnah, salah satunya jeruk Garut. Kondisinya berbeda dengan yang terjadi sekarang di Purwakarta,” tuturnya.

Untuk komoditas unggulan Purwakarta, termasuk manggis, Dispangtan belum melihat adanya alasan untuk meningkatkan kekhawatiran akibat sebaran abu vulkanik saat ini.

Wawan mengatakan manggis bukan tanaman yang hanya tumbuh di Purwakarta. Komoditas tersebut juga berkembang di berbagai daerah lain di Jawa Barat.

“Kalau di Purwakarta, misalnya manggis, tidak terlalu dikhawatirkan. Karena manggis juga terdapat di kabupaten lain dan Jawa Barat pada umumnya. Jadi tidak ada komoditas unggulan yang hanya ada di Kabupaten Purwakarta,” katanya.

Hingga saat ini, Dispangtan menyatakan tanaman pangan, buah-buahan dan tanaman perkebunan di Kabupaten Purwakarta masih dalam kondisi baik.

Petani pun diminta tetap menjalankan aktivitas pertanian seperti biasa sembari memperhatikan perkembangan kondisi di lapangan.

“Intinya aman. Tanaman pangan, buah-buahan dan tanaman perkebunan di Purwakarta masih bagus. Tidak ada pengaruh yang mengkhawatirkan terhadap tanaman,” pungkas Wawan. (yat)

Related Articles

Back to top button
neue online casinos