
PURWAKARTA, RAKA – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mendorong pemerintah daerah bersama masyarakat menggelar salat istisqa di Alun-Alun Purwakarta, Taman Pasanggrahan Padjajaran, Rabu (16/9/2026).
Ibadah salat meminta hujan tersebut diikuti ribuan orang dari unsur aparatur pemerintah, tokoh agama, serta masyarakat. Mereka memanjatkan doa agar hujan segera turun setelah kemarau panjang berdampak terhadap ketersediaan air bersih dan meningkatkan risiko kebakaran lahan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purwakarta, kekeringan telah menjangkau 55 desa dan kelurahan yang tersebar di 15 kecamatan. Wilayah terdampak diperkirakan mencapai sekitar 30 hingga 35 persen dari luas wilayah Kabupaten Purwakarta.
Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan warga memenuhi kebutuhan air rumah tangga, tetapi juga memicu kebakaran lahan kering di sejumlah lokasi.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Purwakarta, John Dien, mengatakan salat istisqa merupakan ibadah yang disyariatkan dalam Islam ketika masyarakat menghadapi kemarau panjang.
“Salat istisqa itu disyariatkan oleh Islam. Hukumnya sunah muakkadah, hampir wajib, apabila lama tidak turun hujan,” kata John Dien seusai pelaksanaan salat istisqa, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, salat istisqa menjadi bentuk ikhtiar manusia untuk memohon pertolongan Allah SWT. Namun, waktu turunnya hujan tetap menjadi kehendak Allah.
“Intinya itu memohon, mengetuk pintu langit untuk turunnya hujan,” ujarnya.
John mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan salat istisqa sebagai tuntutan bahwa hujan harus langsung turun setelah ibadah selesai. Ia menilai, manusia memiliki kewajiban untuk berusaha dan berdoa, sedangkan hasilnya merupakan kewenangan Allah SWT.
“Jadi bukan kemudian ditantang, ‘Mana kenapa tidak hujan?’ bukan begitu. Allah akan memberikan nikmatnya mungkin tidak pada saat itu. Kewajiban kita ikhtiar, dikabulkan kapan-kapannya itu urusan Allah SWT,” katanya.
Ia berharap hujan segera turun dengan intensitas yang cukup sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat sekaligus mengurangi ancaman kebakaran lahan.
“Mudah-mudahan dengan salat istisqa ini tidak lama kita nanti akan diberi hujan, hujan yang berkah, barokah, yang bisa menyejahterakan,” tuturnya.
Di tengah kondisi kekeringan, John juga mengajak masyarakat tidak hanya mengandalkan doa, tetapi turut menjaga lingkungan sebagai bagian dari upaya mengurangi dampak bencana.
Ia meminta warga menjaga kebersihan, merawat tumbuh-tumbuhan, serta memastikan saluran air tidak dipenuhi sampah. Menurutnya, keberadaan pepohonan dan kawasan pegunungan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan ketersediaan sumber air.
“Kami mengimbau masyarakat menjaga ekosistem, menjaga kebersihan, menjaga tumbuh-tumbuhan, menjaga saluran air, dan seterusnya,” kata John.
“Perlindungan berarti di gunung, di pohon-pohon. Kelihatannya memang itu sudah klasik, tetapi itu memang intinya,” lanjutnya.
John menilai persoalan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari perilaku manusia. Karena itu, kesadaran untuk mengelola sampah dan menjaga kebersihan perlu ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Atas ulah tangan-tangan kita, jadi imbauannya menjaga kebersihan, sadar dengan sampah hari ini,” ujarnya.
Sementara itu, BPBD Kabupaten Purwakarta telah menyalurkan lebih dari 1 juta liter air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan.
Dalam sehari, distribusi air bersih mencapai sekitar 10 hingga 15 meter kubik atau setara dengan 10.000 hingga 15.000 liter. Jumlah tersebut menyesuaikan kapasitas kendaraan tangki yang digunakan untuk mendistribusikan air kepada masyarakat.
Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta, Sri Jaya Midan, mengatakan dampak kekeringan mulai dirasakan warga, terutama untuk kebutuhan dasar rumah tangga seperti minum, mencuci, dan keperluan sanitasi.
“Memang terjadi beberapa daerah sudah jadi kekeringan, terutama untuk ketersediaan air rumah tangga, baik itu untuk minum, cuci, kakus, dan sebagainya,” kata Midan.
Selain krisis air bersih, ia menyebut kondisi lahan yang kering turut meningkatkan potensi kebakaran.
“Beberapa daerah juga terjadi kebakaran lahan karena dengan kondisi sangat kritis sekali,” lanjutnya.
Midan mengajak masyarakat menjadikan kondisi tersebut sebagai momentum untuk melakukan introspeksi dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Ia juga mengingatkan bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan kewajiban seluruh elemen masyarakat.
Pemkab Purwakarta, kata Midan, memiliki program ngosrek atau kegiatan membersihkan lingkungan yang dilaksanakan setiap Selasa dan Kamis.
“Jadi program ngosrek ini sangat penting. Dimulai dari hal kebersihan lingkungan,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan aparatur sipil negara, tetapi juga masyarakat secara luas agar gerakan menjaga kebersihan dapat berjalan berkelanjutan.
“Jangan pegawai negeri saja. Harapan saya, karena kebersihan ini bukan tanggung jawab pegawai negeri, jadi seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.
Di tengah kemarau panjang, Midan juga mengajak masyarakat memperbanyak istigfar dan bermunajat kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan.
“Sekarang kita bertobat kepada Allah, introspeksi. Kita bertobat dengan membaca istigfar sembilan kali, kemudian hati kita bersih, lalu kita bermunajat kepada Allah SWT agar diturunkan hujan,” ujar Midan.
Pelaksanaan salat istisqa tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa penanganan kekeringan membutuhkan ikhtiar bersama, mulai dari doa, penghematan air, menjaga lingkungan, hingga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran lahan. (yat)



