
Radarkarawang.id– Tidak sendiri, Disnakertrans Karawang gandeng Baznas untuk pulangkan warga korban scamming di Kamboja. Proses pemulangan menunggu kondisi korban pulih.
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Karawang terus mengupayakan proses pemulangan Ajat Sudrajat warga Rawamerta yang menjadi korban dugaan penipuan kerja (scamming) di Kamboja.
Katim Penempatan Tenaga Kerja Dalam dan Luar Negeri Disnakertrans Karawang Ijum Junaedi, bersama Staf Penanganan Pekerja Imigran Ahmad Sogiri mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah dan koordinasi agar Ajat dapat segera kembali ke tanah air.
Menurut Ijum Junaedi, Disnakertrans telah menjalin komunikasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) terkait bantuan biaya pemulangan korban Ajat Sudrajat.
“Kami sudah melakukan progres terkait upaya pemulangan Ajat Sudrajat warga Rawamerta yang menjadi korban scamming di Kamboja,” katanya, Senin (25/5).
“Kami juga sudah berkoordinasi dengan Baznas Kabupaten Karawang dan alhamdulillah Baznas sudah siap membantu biaya kepulangannya,” jelas Ijum Junaedi menambahkan.
Namun, proses pemulangan belum dapat ia lakukan dalam waktu dekat lantaran kondisi kesehatan Ajat masih belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan.
Baca juga: Pendaftaran Sekolah MAUNG SMAN 5 Karawang 2026: Kuota, Jadwal, dan Cara Daftar
Ijum Junaedi menjelaskan, Ajat Sudrajat mengalami patah kaki dan cedera pada bagian pinggul sehingga belum dapat berjalan. Ini menghambat pemulangan.
Cedera tersebut, Ajat Sudrajat dapati saat berusaha melarikan diri dari lokasi tempatnya bekerja di Kamboja, ketika ia hendak berusaha kabur.
”Ajat mengalami patah tulang setelah jatuh dari lantai tiga saat berusaha kabur. Beruntung saat ini dia sudah berhasil selamat dan berada dalam penanganan KBRI,” katanya.
Saat ini pihaknya menunggu kondisi kesehatan Ajat membaik terlebih dahulu agar proses pemulangan dapat lebih mudah dan biaya lebih ringan.
Apabila Ajat sudah pulih dan dapat berjalan sendiri, maka biaya pemulangannya akan lebih ringan karena hanya membutuhkan tiket perjalanan pribadi.
Sebaliknya, apabila kondisi korban masih memerlukan pendampingan khusus atau harus pulang dalam posisi berbaring, maka biaya akan jauh lebih besar.
”Kalau harus pulang sambil tiduran, tentu pembiayaannya cukup besar. Sementara kemampuan bantuan dari Baznas saat ini untuk pembiayaan pemulangan secara pribadi,” tutupnya. (zal)



