
PURWAKARTA, RAKA – Festival Layangan yang digelar di kawasan industri JISC, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, sukses menjadi magnet bagi para pecinta permainan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 256 peserta ambil bagian dalam kompetisi adu layangan yang menjadi rangkaian peringatan Hari Jadi Purwakarta ke-195 dan Hari Jadi Kabupaten Purwakarta ke-58 Tahun 2026.
Selama dua hari pelaksanaan, langit JISC dipenuhi ratusan layangan beraneka warna. Bukan sekadar diterbangkan, para peserta saling mengadu teknik dalam pertandingan bergaya freestyle, mengandalkan ketepatan mengendalikan layangan, strategi, serta kemampuan membaca arah angin yang terus berubah.
Peserta datang dari berbagai daerah, mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Tangerang, Banten, hingga sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat. Tingginya jumlah peserta menunjukkan permainan layangan masih memiliki banyak peminat meski berada di tengah perkembangan era digital.
Sejak siang hari, lapangan terbuka di kawasan JISC dipadati peserta yang mempersiapkan layangan dan benang sebelum bertanding. Hembusan angin yang tidak menentu membuat setiap pertandingan berlangsung menegangkan.
Sorak penonton pecah setiap kali sebuah layangan berhasil memutus benang lawannya. Tak sedikit peserta yang langsung berlari mengejar layangan yang terputus agar bisa kembali didapatkan.
Menariknya, festival ini tidak hanya diikuti kaum pria. Sejumlah peserta perempuan juga mampu menunjukkan kemampuan bersaing di arena pertandingan.
Salah satunya Regina Mulya Dwi Yanti. Ia mengaku awalnya tidak pernah serius bermain layangan, namun justru berhasil mengalahkan beberapa peserta dalam kompetisi tersebut.
“Awalnya saya tidak pernah bermain layangan. Tapi di festival ini saya bisa mengalahkan lawan. Tantangannya memang harus bisa membaca arah angin karena anginnya sering berubah,” ujarnya, Sabtu (18/7/2026).
Sementara itu, peserta asal Karawang, Nuryana, mengatakan kecintaannya terhadap permainan layangan sudah tumbuh sejak masih kecil. Baginya, keseruan bermain layangan terletak pada duel strategi untuk memutus benang lawan.
“Saya dari kecil memang hobi main layangan. Sensasi paling seru itu saat bisa mengalahkan layangan lawan,” katanya.
Ketua Pelangi Jabar, Mulyana, menjelaskan festival menggunakan kategori kelas 53–58 dengan sistem pertandingan freestyle. Setiap peserta diwajibkan mengumpulkan dua kemenangan untuk melaju ke babak berikutnya hingga semifinal dan final.
Menurutnya, tingginya antusiasme peserta menjadi bukti bahwa permainan layangan masih memiliki tempat di hati masyarakat.
“Jumlah peserta mencapai 256 orang yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Tangerang, Banten, dan berbagai daerah di Jawa Barat. Antusiasmenya sangat tinggi,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kompetisi, festival ini juga menjadi upaya melestarikan permainan tradisional agar tetap dikenal oleh generasi muda. Di tengah maraknya permainan digital, panitia berharap layangan tidak hanya menjadi nostalgia, tetapi tetap menjadi aktivitas yang diminati Generasi Z dan Generasi Alpha. (yat)



