
PURWAKARTA, RAKA – Serangan hama tikus dan wereng batang cokelat (WBC) sempat mengancam lahan pertanian di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Namun, gerak cepat petugas perlindungan tanaman membuat ratusan hektare sawah yang terdampak tetap bisa dipanen.
Kepala UPTD Perlindungan Tanaman Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Wawan Hermawan, mengatakan serangan hama menjadi salah satu ancaman yang terus diantisipasi, terutama ketika memasuki periode musim tertentu.
Pada musim tanam sebelumnya, serangan tikus tercatat melanda hampir 320 hektare lahan pertanian. Sementara serangan WBC mencapai sekitar 240 hektare. Meski luas lahan yang terdampak cukup besar, Wawan memastikan tidak ada lahan yang sampai mengalami gagal panen akibat serangan tersebut.
“Di bulan April itu tikus merajalela, hampir di 320 hektare terserang dan bisa dikendalikan. Alhamdulillah semuanya bisa dipanen. WBC-nya juga hampir 240 hektare terserang dan terkendalikan, tapi tetap bisa dipanen,” kata Wawan, Rabu (2/9/2026).
Menurut Wawan, pengendalian hama dilakukan dengan pola respons cepat. Begitu laporan mengenai serangan masuk, petugas langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan penanganan agar serangan tidak meluas ke area persawahan lainnya.
“Kita punya misi, bahwa di perlindungan tanaman itu quick response. Bilamana ada terjadi serangan hama penyakit, di manapun informasi sampai ke perlindungan tanaman, langsung segera dikendalikan waktu itu juga,” ujarnya.
Wawan mengatakan petugas juga tidak selalu menunggu serangan terjadi dalam skala luas. Pengendalian dapat dilakukan pada titik-titik tertentu yang mulai menunjukkan adanya serangan. Dengan metode tersebut, petugas dapat memusatkan penanganan pada lokasi yang terdampak sebelum hama berkembang dan menyebar ke hamparan yang lebih luas.
“Kadang-kadang banyak kan, ini dalam hamparan 2.000 meter misalkan di 20 meternya ada tikus, langsung kendalikan. Melalui stop spot dikendalikan,” katanya.
Kewaspadaan terhadap serangan hama juga dilakukan sebelum musim tanam berlangsung. Wawan menjelaskan, sebagai bagian dari sistem perlindungan tanaman di daerah, pihaknya menerima prediksi dan surat kewaspadaan dari Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di bawah Kementerian Pertanian.
Informasi tersebut biasanya menjadi acuan untuk mengantisipasi jenis hama yang berpotensi berkembang pada musim tertentu. Dari prediksi itu, petugas kemudian menyiapkan langkah pengendalian, termasuk kebutuhan pestisida serta melakukan sosialisasi kepada petugas dan masyarakat di setiap kecamatan.
“Kalau kita yang sebagai pelaksana di daerah mendapat kewaspadaan atau prediksi serangan hama penyakit itu sudah ada surat ke balai yang memberitahu. Jadi kita ancang-ancang mempersiapkan obat apa, pestisida apa yang harus dipersiapkan,” jelas Wawan.
Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada jajaran perlindungan tanaman di lapangan agar petani dapat meningkatkan kewaspadaan.
Pada periode sebelumnya, tikus menjadi salah satu hama yang paling diwaspadai. Namun, dalam perkembangannya WBC juga muncul dan menyerang tanaman padi. Menurut Wawan, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Pada musim panas dengan kelembapan yang masih tinggi, perkembangan sejumlah organisme pengganggu tanaman dapat berlangsung lebih cepat.
“Karena di musim panas ini panasnya jadi kelembaban tinggi, jadi seolah-olah perkembangbiakan hama tersebut pesat, cepat,” ujarnya.
Kondisi tersebut juga dapat semakin mempercepat penyebaran hama ketika didukung pergerakan angin.
“Apalagi dengan ditambah angin, mereka migrasi dengan cepat,” katanya.
Karena itu, pengamatan terhadap tanaman menjadi penting. Petugas dan petani didorong untuk segera melaporkan apabila menemukan gejala serangan.
Di sisi lain, setelah masa panen berakhir, sebagian lahan pertanian di Purwakarta belum kembali ditanami. Wawan menjelaskan kondisi tersebut bukan semata-mata karena persoalan hama, tetapi berkaitan dengan musim tanam dan ketersediaan air.
Musim tanam berikutnya umumnya mulai memasuki periode sekitar September hingga Oktober. Jika petani memaksakan penanaman di luar periode yang sesuai, biaya produksi berpotensi meningkat.
Salah satu persoalan utama adalah kebutuhan air. Petani memang dapat menggunakan pompa untuk mengairi sawah, tetapi biaya operasionalnya harus diperhitungkan dengan hasil produksi.
“Kalau dari awal memang tidak ada air terus mengandalkan pompanisasi, bisa tumbuh sampai panen. Cuma kalau dihitung-hitung, dia produksinya tinggi, karena hitungannya jangka panjang, tiga bulan,” kata Wawan.
Menurutnya, penggunaan pompa masih memungkinkan jika kebutuhan air hanya diperlukan dalam waktu singkat, misalnya menjelang panen. Namun, apabila sejak awal tanam petani harus terus menggunakan pompa hingga masa panen, biaya yang dikeluarkan dapat menggerus keuntungan.
“Kalau hanya seminggu, masih berani,” ujarnya.
Pengalaman menghadapi serangan tikus dan WBC pada musim sebelumnya menjadi gambaran pentingnya deteksi dini dan respons cepat dalam menjaga produktivitas pertanian.
Meski ratusan hektare tanaman sempat terdampak, seluruh lahan yang dilaporkan terserang tersebut tetap dapat dipanen. Bagi Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kesiapsiagaan petugas, ketersediaan sarana pengendalian serta kecepatan menerima dan menindaklanjuti laporan dari lapangan.
Wawan mengatakan pola tersebut akan terus dipertahankan, terutama menghadapi perubahan kondisi cuaca dan potensi munculnya organisme pengganggu tanaman pada musim berikutnya.
“Intinya, kalau ada serangan hama penyakit, informasi sampai ke perlindungan tanaman, langsung segera dikendalikan,” tegasnya. (yat)



