
radarkarawang.id, Pemerintah Kabupaten Purwakarta secara resmi menyelenggarakan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2026 sebagai bentuk penguatan komitmen terhadap pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Bertempat di Arboretum Bambu Linuhung pada Kamis (23/7/2026), Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, menekankan pentingnya kolaborasi strategis dalam mencetak generasi yang sehat secara fisik dan unggul secara moral.
Penerapan Filosofi Panca Waluya dalam Pendidikan Karakter
Dalam agenda formal tersebut, Bupati yang akrab disapa Om Zein menyoroti keberlanjutan Program Panca Waluya. Konsep ini bukan sekadar kurikulum tambahan, melainkan pondasi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Sunda yang relevan dengan tantangan global. Melalui Panca Waluya, anak-anak di Purwakarta diarahkan untuk memiliki lima pilar utama:
- Cageur: Memastikan kesehatan fisik yang prima sebagai modal utama aktivitas.
- Bageur: Menanamkan sifat baik hati dan empati sosial tinggi.
- Bener: Membentuk integritas agar anak senantiasa berperilaku benar sesuai aturan.
- Pinter: Mengoptimalkan kecerdasan intelektual dan literasi digital.
- Singer: Mengembangkan keterampilan praktis serta kesigapan dalam bertindak.
Implementasi nilai-nilai ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik. Pemerintah daerah meyakini bahwa penggabungan antara nilai tradisional dan kompetensi modern adalah kunci bagi anak-anak Purwakarta untuk bersaing di masa depan.
Apresiasi Pangariksa Bumi: Inspirasi dari Pandawara Cilik
Salah satu poin krusial dalam peringatan HAN 2026 adalah pemberian penghargaan kepada empat anak inspiratif yang dijuluki sebagai Pandawara Cilik. Atas dedikasi mereka dalam aksi nyata membersihkan lingkungan, Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta memberikan gelar Pangariksa Bumi atau penjaga bumi kepada Raffa Putera Maulana, Radit Arka Faizi, Athar Yudistira, dan Fauzan.
Aksi kolektif ini bermula dari inisiatif mandiri di lingkungan tempat tinggal mereka. Dengan dukungan penuh dari orang tua, kelompok kecil ini rutin membersihkan saluran air dan area sungai dari sampah. Fenomena ini membuktikan bahwa edukasi mengenai kelestarian lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana yang berdampak luas bagi masyarakat sekitarnya.
Sinergi Strategis Orang Tua dan Institusi Pendidikan
Bupati Purwakarta menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan karakter anak tidak dapat dibebankan hanya pada satu pihak. Diperlukan sinergi berkelanjutan antara peran guru di sekolah sebagai fasilitator akademik dan orang tua di rumah sebagai pendidik moral utama. Harmonisasi kedua elemen ini sangat krusial untuk memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang suportif dan inspiratif.
Acara ini juga menjadi ajang refleksi bagi para pemangku kepentingan, termasuk jajaran KCD Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan DPRD Kabupaten Purwakarta, untuk terus menghadirkan kebijakan yang pro-anak. Dengan komitmen yang kuat, Kabupaten Purwakarta optimistis dapat mencetak generasi emas yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kepedulian tinggi terhadap ekosistem alam.(rk)



