Industri Genteng Plered Purwakarta di Ujung Tanduk, Ini Strategi Om Zein untuk Bangkitkan Pengusaha Lokal

PURWAKARTA, RAKA – Industri genteng khas Plered yang pernah berjaya kini menghadapi tantangan serius. Di tengah gempuran material modern dan persaingan harga dari daerah lain, para pengusaha genting lokal masih bertahan meski dalam kondisi yang tidak mudah.
Situasi ini menjadi perhatian langsung Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein, saat menerima para pengusaha genting asal Kecamatan Plered di rumah dinasnya, Jumat (10/4). Pertemuan tersebut membahas peluang kebangkitan industri genting lokal di tengah program gentingisasi yang mulai digaungkan pemerintah pusat.
Dalam pertemuan itu, Om Zein menyoroti fakta bahwa industri genting Plered belum sepenuhnya mati, tetapi tengah berjuang untuk bertahan.
“Walaupun dulu sempat banyak yang beralih, para pengusaha ini masih tetap eksis. Memang produksinya tidak sebanyak dulu, tapi mereka belum berhenti. Ini potensi besar yang harus kita dorong,” tegasnya.
Ia menilai, sentra genting Plered bukan sekadar usaha biasa, melainkan aset daerah yang memiliki nilai historis dan ekonomi tinggi. Namun tanpa strategi yang tepat, industri ini berisiko semakin tertinggal, bahkan kalah dari daerah lain seperti Jatiwangi, Sumedang.
Om Zein mengingatkan bahwa kebangkitan industri ini tidak bisa hanya mengandalkan nostalgia kejayaan masa lalu. Ia mendorong adanya langkah konkret, terutama dalam menembus pasar perumahan modern.
“Ke depan, developer perumahan harus mulai dilibatkan. Tapi tentu syaratnya jelas, kualitas harus bagus dan harga harus kompetitif,” ujarnya.
Di sisi lain, para pengusaha mengungkapkan realita pahit yang mereka hadapi di lapangan. Salah satu pelaku usaha menyebutkan bahwa harga genting Plered masih menjadi hambatan utama dalam bersaing.
Menurutnya, selisih harga dengan produk dari daerah lain bisa mencapai sekitar Rp200 per unit. Ditambah biaya distribusi, kondisi ini membuat konsumen berpikir dua kali untuk memilih genting Plered.
“Di masyarakat ada anggapan genteng Plered lebih mahal. Apalagi kalau harus kirim ke luar daerah, ongkosnya jadi beban tambahan,” ungkapnya.
Namun demikian, para pengusaha menegaskan bahwa harga tersebut sebanding dengan kualitas yang ditawarkan. Mereka menjelaskan bahwa proses produksi di Plered sudah menggunakan teknologi modern seperti mesin rotary, yang mampu menjaga tekanan produksi tetap stabil.
Teknologi ini dinilai menjadi keunggulan tersendiri karena menghasilkan genting dengan kualitas dan daya tahan yang lebih baik dibandingkan produk sejenis.
Selain itu, tingginya biaya produksi juga dipengaruhi oleh faktor upah tenaga kerja yang relatif lebih tinggi. Kondisi ini semakin diperparah dengan lesunya pasar, sehingga produksi tidak bisa berjalan maksimal.
Pertemuan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa masa depan industri genting Plered berada di titik krusial. Jika tidak segera berbenah dan didukung kebijakan yang tepat, bukan tidak mungkin industri legendaris ini akan semakin terpinggirkan. (yat)



