Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
Karawang
Trending

13 Motif Batik Karawang yang Siap Tembus Pasar Global

KARAWANG, RAKA- Batik Karawang terus didorong agar tidak hanya dikenal di tingkat lokal dan nasional, tetapi mampu menembus pasar global. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui kegiatan Batik Inklusif 2026 yang melibatkan penyandang disabilitas dalam proses kreatif pembuatan batik.

Kegiatan yang digelar Kreasi Tuli Indonesia (KTI) tersebut berlangsung selama dua hari, Sabtu (3/10) hingga Minggu (4/10), di Resinda Park Mall Karawang. Selain memamerkan produk batik, kegiatan itu juga menjadi ruang bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menghasilkan karya.

Desainer muda asal Karawang sekaligus penyelenggara Batik Inklusif 2026, Akeyla Naraya mengatakan, seluruh proses desain dan membatik untuk busana yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut melibatkan penyandang disabilitas. “Untuk baju aku, itu semuanya yang desain dan membatik itu disabilitas semua,” katanya, Sabtu (3/10).

Dalam kegiatan tersebut, Akeyla memperkenalkan dua motif batik, yakni motif lama dan motif baru bernama Flower of Java. Proses pembuatan motif hingga busana yang ditampilkan membutuhkan waktu sekitar dua pekan. Selain fashion show, para peserta juga mengikuti workshop membatik inklusif, lomba kreasi membatik dan menjahit, pembuatan bros dari perca batik, talk show, beauty class bersama Wardah hingga live music.

Akeyla mengatakan keterlibatan penyandang disabilitas menjadi bagian penting dalam pengembangan batik. Menurutnya, mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi dan kreativitas. Ia berharap momentum Hari Batik Nasional dapat menjadi dorongan agar batik Karawang semakin dikenal luas dan digunakan oleh masyarakat, termasuk generasi muda.

“Harap batik itu lebih bisa global dan harap anak-anak muda juga bisa memakai batik sehari-hari,” ujarnya.

Akeyla sendiri sebelumnya telah membawa batik Karawang dalam sejumlah kegiatan di luar negeri. Kiprah tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Karawang sebagai bagian dari upaya memperkenalkan produk ekonomi kreatif daerah ke pasar internasional.

Kepala Dinas Pariwisata dan Pemuda Olahraga (Disparpora) Kabupaten Karawang Abbas Sudrajat mengatakan, Batik Inklusif 2026 menjadi salah satu sarana untuk memperkuat promosi batik Karawang sebagai bagian dari subsektor ekonomi kreatif. Menurutnya, Pemkab Karawang mendukung upaya memperkenalkan batik daerah ke tingkat internasional. Terlebih, batik Karawang telah memperoleh prestasi dalam ajang di luar negeri.

“Intinya mempromosikan produk batik Karawang. Dan mendapat predikat terbaik kedua di Kyrgyzstan,” ujarnya.

Abbas juga memberikan apresiasi terhadap keterlibatan penyandang disabilitas dalam kegiatan tersebut. Ia menilai keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang untuk menghasilkan karya.

“Ini pun kita juga mengapresiasi, ternyata dengan keterbatasan mereka juga punya motivasi dan kemampuan untuk mau berbuat, mau membatik,” ujarnya.

Ia berharap pengembangan batik Karawang tidak berhenti pada pasar lokal maupun nasional, tetapi terus diarahkan hingga mampu bersaing di pasar internasional.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Karawang sekaligus Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Karawang, Dindin Rachmadhy, menilai salah satu tantangan utama saat ini adalah membangun kesadaran masyarakat bahwa Karawang memiliki identitas batik sendiri.

Menurut Dindin, pengenalan terhadap batik Karawang perlu diperkuat agar masyarakat tidak hanya mengenal batik dari daerah lain.

“Karawang itu punya batik. Membumikan bahwa Karawang itu punya batik dulu,” katanya.

Dindin menyebut sedikitnya terdapat 12 motif batik yang berkembang di Karawang. Motif-motif tersebut mengambil inspirasi dari berbagai kekayaan alam dan budaya daerah, seperti padi, turubuk, Candi Jiwa, eceng gondok, sungai, gunung, jaipongan hingga unsur pewayangan. Jumlah tersebut, kata dia, masih berpotensi bertambah seiring munculnya inovasi dari para pelaku usaha, sanggar maupun komunitas batik.

“Kita tetap melaksanakan kombinasi dengan sanggar-sanggar ini. Jadi tinggal kita coba mana yang menjadi main, mana yang menjadi pendukung,” ujarnya.

Batik Inklusif 2026 juga diisi dengan Talk Show Series for Global Vision bersama Akeyla Naraya, talk show bersama Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Karawang serta Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Pipik Taufik Ismail.

Melalui kegiatan tersebut, pengembangan batik Karawang tidak hanya diarahkan pada pelestarian budaya. Keterlibatan generasi muda dan penyandang disabilitas juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem batik yang lebih inklusif sekaligus membuka peluang produk lokal untuk bersaing di pasar global. (zal)

Related Articles

Back to top button