Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
Karawang
Trending

IGD RSUD Karawang Overload, Pasien Antre Hingga ke Ambulans

KARAWANG, RAKA- Penumpukan pasien kembali terjadi di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kabupaten Karawang. Dalam sebulan terakhir, lonjakan kunjungan bahkan membuat kapasitas ruang IGD yang sudah diperluas menjadi 41 tempat tidur kembali kewalahan.

Dalam kondisi normal, IGD RSUD Karawang hanya memiliki sekitar 30 tempat tidur. Namun, penambahan kapasitas tersebut belum cukup menahan lonjakan pasien. Dalam sehari, jumlah pasien yang berada di IGD bahkan sempat mencapai 55 orang.

Akibatnya, sekitar 15 pasien harus mendapatkan penanganan di luar kapasitas tempat tidur utama. Sebagian pasien bahkan terpaksa menunggu di ambulans desa maupun kendaraan yang membawa pasien rujukan.

Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Karawang dr. Parlindungan mengatakan, kondisi tersebut tidak terlepas dari tingginya tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit secara keseluruhan.

“Memang betul belakangan ini IGD kita sering overload. Yang dahulu hanya 30 bed, sekarang alhamdulillah berkat bantuan pemerintah daerah, kita bisa membuat gedung IGD baru dengan kapasitas 41 tempat tidur. Tapi per hari ini saja ada 55 pasien di IGD, sementara total bangsal terisi 362 pasien. Artinya ada sekitar 15 pasien yang berada di luar kapasitas bed utama,”katanya, Kamis (24/9).

Menurutnya, tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) RSUD Karawang saat ini berada di kisaran 90 hingga 95 persen. Angka tersebut sudah berada di atas ambang ideal pelayanan rumah sakit yang berada di sekitar 80 persen. Lonjakan paling terasa terjadi pada pasien anak. Ruang perawatan anak disebut hampir setiap hari terisi penuh, sementara kasus penyakit saluran pernapasan juga menjadi salah satu penyumbang utama kunjungan pasien.

“Saat ini tingkat keterisian untuk ruangan anak itu hampir setiap hari 100 persen penuh. Dulu tidak sampai segini, makanya yang paling banyak datang ke IGD juga pasien-pasien anak. Kami juga mendapat informasi dari rekan-rekan medis luar daerah bahwa kasusnya terjadi bersamaan,” terangnya.

Dari keseluruhan kunjungan rumah sakit, kasus penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) disebut menyumbang sekitar 30 persen. Kondisi cuaca yang kering dan lingkungan yang berdebu diduga turut mempermudah penyebaran penyakit melalui udara. Namun, pihak rumah sakit menegaskan penyebab pasti lonjakan ISPA masih membutuhkan kajian lebih lanjut.

“Penyebab pastinya tentu perlu penelitian lebih lanjut. Kemarin dari pihak provinsi juga sudah meminta data terkait lonjakan kasus ISPA ini. Keadaan cuaca dan lingkungan saat ini udaranya kering dan banyak debu, sehingga memudahkan penyebaran virus atau bakteri melalui udara,” jelasnya.

Di tengah keterbatasan kapasitas, RSUD Karawang melakukan sejumlah langkah untuk mengurai kepadatan pasien. Salah satunya dengan melakukan relaksasi atau penyesuaian penggunaan ruangan. Ruangan yang masih memiliki kapasitas dapat digunakan untuk pasien dengan kebutuhan berbeda, termasuk mengalihkan sementara ruang perawatan dewasa untuk pasien anak.

Selain itu, pasien BPJS Kesehatan juga tetap mendapatkan pelayanan tanpa dibedakan berdasarkan kelas kepesertaan. Bahkan, ketika tempat tidur sesuai kelas tidak tersedia, pasien dapat ditempatkan di ruangan dengan kelas yang lebih tinggi tanpa dibebankan biaya tambahan.

“Kita pasien BPJS-nya itu 98 persen. Tidak ada pasien dibeda-bedakan untuk umum atau perusahaan. Pokoknya ada ruang kosong, kita isi. Pasien dewasa bisa kita shift menjadi perawatan anak. Pasien kelas 3 kalau ruangan yang kosong kelas 1 atau kelas 2, langsung kita masukkan naik kelas agar mereka sementara terlayani dulu,” tegasnya.

Ia juga membantah anggapan bahwa pasien BPJS dibatasi lama perawatannya. Menurutnya, keputusan pasien dipulangkan sepenuhnya berdasarkan kondisi medis, bukan karena adanya batas minimal maupun maksimal lama rawat.

“Di kami tidak ada batasan minimal atau maksimal rawat, tidak ada aturan harus tiga hari atau lima hari baru boleh pulang. Semua berdasarkan keputusan klinis. Rata-rata lama rawat kita ada di angka 4,5 hari. Kalau kondisi pasien sudah stabil dan secara medis layak pulang, baru diperbolehkan pulang,” terangnya.

Sementara terkait keluhan pasien yang harus menunggu lama di IGD meski melihat masih terdapat ruangan kosong, pihak rumah sakit menyebut tidak semua ruangan dapat langsung digunakan. Menurutnya, setiap ruangan memiliki spesifikasi dan peruntukan medis masing-masing. Ruangan yang sebelumnya digunakan untuk pasien dengan penyakit menular, misalnya, harus melalui proses sterilisasi sebelum dapat digunakan kembali.

“Kadang pasien melihat ada ruangan kosong, padahal ruangan itu baru dipakai pasien TBC atau infeksi yang harus disterilisasi dulu. Atau yang kosong ruangan bayi, kan tidak mungkin dewasa masuk ke sana. Begitu juga ruangan perawatan kritis dan semi-kritis yang butuh pengawasan khusus. Jadi bukan ditunda-tunda, tapi ada kekhususan kebutuhan ruangan yang harus disesuaikan,” tambahnya.

Di tengah tingginya beban rumah sakit rujukan tersebut, manajemen RSUD Karawang meminta fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti puskesmas dan klinik swasta lebih mengoptimalkan penanganan pasien ISPA ringan.

Pasalnya, tidak seluruh kasus ISPA membutuhkan penanganan di rumah sakit rujukan tipe B. Pasien dengan kondisi ringan dan tanpa komplikasi diharapkan dapat ditangani terlebih dahulu di tingkat pertama. “Harapan kami mekanisme rujukan berjenjang bisa berjalan efektif.

Kalau kasus ISPA-nya masih ringan, mohon dapat diatasi terlebih dahulu di FKTP, Puskesmas, atau RS tipe C. Kecuali jika sudah ada kondisi pemberat seperti asma akut atau pneumonia, barulah dirujuk ke RSUD Karawang,” tutur dr. Parlindungan.

Ia menambahkan, penguatan koordinasi antarfasilitas kesehatan diperlukan agar sistem rujukan berjalan sesuai kebutuhan medis pasien. Dengan demikian, rumah sakit rujukan dapat lebih fokus menangani pasien yang membutuhkan pelayanan lanjutan. Di sisi lain, masyarakat juga diminta meningkatkan upaya pencegahan, khususnya selama kondisi udara kering dan musim kemarau.

“Kami sangat berharap masyarakat dapat meningkatkan pola hidup sehat. Di musim kemarau dan udara kering ini, perbanyak minum air putih, konsumsi makanan bergizi dan sayuran, serta istirahat yang cukup. Jika memungkinkan, lakukan vaksinasi influenza, terutama untuk melindungi anak-anak dan lansia yang sistem kekebalan tubuhnya masih rentan,”tutupnya. (zal)

Related Articles

Back to top button