KARAWANG,RAKA— Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn) Cabang Bandung Wilayah 5 (Purwasuka-Bekasi) menggelar kampanye edukasi pentingnya donor darah bagi masyarakat.
Kegiatan edukasi yang dikemas dalam bentuk pengabdian masyarakat ini diselenggarakan di Masjid Agung Syekh Quro, Karawang, dalam rangka memperingati HUT PDS PatKLIn ke-36. Selain sesi edukasi kesehatan, rangkaian acara sosial ini juga diisi dengan pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis dan aksi donor darah untuk masyarakat umum.
Edukasi kesehatan yang disampaikan oleh dokter spesialis patologi klinik, dr. Clareza Arief Wardhana, Sp.PK, soroti masih tingginya kebutuhan darah nasional yang belum sebanding dengan ketersediaan stok darah saat ini. Berdasarkan data, Indonesia masih mengalami kekurangan sekitar 1 juta kantong darah setiap tahunnya.
”Hingga saat ini darah belum bisa dibuat secara sintetis, sehingga satu-satunya sumber pasokan darah untuk pasien kritis adalah dari kedermawanan para pendonor,” ujar dr. Clareza.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan darah sangat vital untuk menolong berbagai kondisi medis darurat, seperti korban kecelakaan, ibu melahirkan yang mengalami perdarahan hebat, hingga pasien anak penderita Thalassemia yang membutuhkan transfusi rutin.
dr. Clareza membeberkan bahwa satu kantong darah yang didonorkan sekitar 350–450 mL, nantinya akan diproses di laboratorium dan dipisahkan menjadi tiga komponen utama: sel darah merah (RBC), plasma darah dan trombosit.
”Artinya, partisipasi satu pendonor dalam memberikan satu kantong darah memiliki potensi besar untuk menyelamatkan hingga tiga nyawa pasien yang berbeda,” ungkapnya.
dr. Clareza juga memanfaatkan momen kampanye ini untuk meluruskan berbagai mitos yang membuat sebagian masyarakat masih ragu berdonor.
Mitos bahwa donor darah menyebabkan darah habis atau membuat tubuh lemas secara permanen dibantahnya. Secara alami, tubuh manusia akan langsung merangsang pembentukan sel darah merah baru secara bertahap dalam beberapa minggu pascadonor, sementara rasa lemas umumnya hanya bersifat sementara.
Selain itu, ia menjamin proses donor darah aman dari risiko penularan penyakit karena seluruh peralatan yang digunakan bersifat steril dan hanya sekali pakai. Ketiadaan hubungan antara donor darah dan peningkatan berat badan juga ditegaskan dalam edukasi tersebut.
“Mendonorkan darah justru memberikan banyak manfaat bagi tubuh pendonor, mulai dari merangsang regenerasi sel darah baru, mendapatkan skrinning/pemeriksaan penyakit menular secara gratis, hingga menjaga kesehatan kardiovaskular,” ucapnya. (asy)



