
KARAWANG, RAKA– Kreasi Tuli Indonesia (KTI) bersama Jamkrindo menggelar pelatihan membatik sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menuju Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober. Kegiatan tersebut dirancang sebagai program inklusif untuk mendorong penyandang disabilitas, khususnya perempuan, agar lebih mandiri dan mampu menghasilkan karya bernilai ekonomi.
Founder Kreasi Tuli Indonesia (KTI), Inaraya mengatakan, pelatihan membatik kali ini berbeda dengan kegiatan serupa sebelumnya. Peserta tidak hanya mengikuti pelatihan secara berkelompok, tetapi diarahkan untuk mampu menghasilkan karya secara mandiri.
“Pelatihan batik kali ini merupakan pra-event atau rangkaian menuju Hari Batik Nasional tanggal 2 Oktober. Mulai Agustus sampai September akan ada berbagai rangkaian kegiatan, kemudian puncaknya pada 2 Oktober,”katanya, Senin (24/8).
Menurutnya, setelah mengikuti pelatihan membatik, para peserta akan melanjutkan rangkaian kegiatan dengan pelatihan menjahit yang melibatkan peserta berbeda. Keduanya kemudian akan dipertemukan untuk berkolaborasi menghasilkan pakaian berbahan batik karya peserta.
“Batik yang mereka buat sekarang nanti akan dikolaborasikan dengan para penjahit untuk dibuat menjadi pakaian. Hasil karya tersebut kemudian akan dilombakan sampai 2 Oktober,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 20 orang mengikuti pelatihan membatik dan 20 orang lainnya mengikuti pelatihan menjahit. Dengan demikian, terdapat sekitar 40 peserta yang nantinya diproyeksikan terlibat dalam kompetisi karya. Untuk proses desain, peserta akan mendapatkan pendampingan dari Keila. Sementara para pelatih dalam kegiatan membatik berasal dari internal Kreasi Tuli Indonesia.
Inaraya menegaskan, hasil pelatihan tidak berhenti pada kegiatan lomba. Peserta juga didorong untuk dapat memasarkan hasil karyanya setelah memiliki keterampilan membatik secara mandiri.
“Kalau mereka sudah bisa mengerjakan batik sendiri, otomatis mereka sudah bisa memperjualbelikan karya mereka. Harapannya keterampilan ini bisa menjadi penghasilan,” jelasnya.
Peserta pelatihan tidak hanya berasal dari Kabupaten Karawang. Terdapat pula peserta dari Bandung, sedangkan peserta lainnya berasal dari sejumlah wilayah di Karawang dan sekitarnya. Menurut Inaraya, keterbukaan peserta dari berbagai daerah maupun ragam disabilitas menjadi bagian dari konsep inklusif yang diusung KTI. Peserta tidak hanya berasal dari kelompok tuli, tetapi juga terdapat penyandang disabilitas daksa dan cerebral palsy.
“Kita konsepnya inklusif. Jadi kita tidak mengkotak-kotakkan, misalnya hanya disabilitas Karawang atau hanya tuli. Sekarang ada daksa, cerebral palsy, dan lainnya,” ungkapnya.
Sementara untuk motif batik, peserta diberikan kebebasan dalam menentukan desain sesuai kreativitas masing-masing. Namun, sejumlah peserta memilih motif yang mengangkat unsur flora dan karakter lokal Karawang, termasuk motif padi. Inaraya mengatakan, kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Jamkrindo melalui program pemberdayaan yang dimilikinya. Dukungan diberikan mulai dari pelatihan membatik, pelatihan menjahit hingga proses menghasilkan karya untuk kemudian dilombakan.
“Tujuannya supaya perempuan disabilitas bisa mandiri, setara, lebih kreatif dan lebih percaya diri. Ketika mereka bisa mengolah kain kosong menjadi batik, harapannya karya tersebut bisa menjadi sumber penghasilan bagi mereka,” terangnya.
Ia menambahkan, kompetisi yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan tersebut bukan semata-mata untuk mencari pemenang. Lomba diharapkan menjadi pemacu semangat peserta agar terus berkarya dan menghasilkan produk yang semakin baik. “Dilombakan itu supaya memacu semangat mereka, lebih percaya diri dan lebih terpacu menghasilkan karya yang bagus,”tutupnya. (zal)



