
PURWAKARTA, RAKA – Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein naik pitam saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke proyek jalan hotmix di Desa Citalang, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Senin (31/8/2026).
Kemarahan Om Zein dipicu kondisi pekerjaan jalan yang baru selesai dihotmix, tetapi lapisan permukaannya diduga mudah terkelupas. Bahkan, saat diperiksa di lokasi, lapisan hotmix tersebut disebut dapat terlepas hanya dengan dikorek menggunakan tangan.
Temuan itu membuat Om Zein mempertanyakan kualitas pekerjaan proyek yang menggunakan anggaran pemerintah tersebut.
“Bagus nggak hotmix begini? Nggak bakalan benar. Ini besok juga coplok lagi,” ujar Om Zein saat meninjau kondisi jalan.
Dalam sidak tersebut, Om Zein juga menyoroti ketebalan lapisan hotmix. Ia menyebut spesifikasi pekerjaan mencantumkan ketebalan sekitar tiga sentimeter. Namun, berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, lapisan yang terlihat diduga jauh lebih tipis.
“Speknya tiga senti, tapi yang terlihat mungkin hanya sekitar satu senti. Dikorek sedikit langsung copot,” katanya.
Temuan tersebut membuat Bupati meminta agar kualitas pekerjaan benar-benar diperhatikan. Menurutnya, pembangunan jalan tidak cukup hanya terlihat selesai secara kasat mata, tetapi harus memenuhi spesifikasi dan memiliki daya tahan sesuai peruntukannya.
Kualitas pekerjaan menjadi penting karena infrastruktur jalan dibangun menggunakan anggaran pemerintah yang pada akhirnya bersumber dari masyarakat.
Selain kualitas hotmix, Om Zein mempertanyakan perencanaan proyek jalan di lokasi tersebut. Ia menilai pekerjaan infrastruktur seharusnya dirancang berdasarkan kondisi keseluruhan ruas jalan yang akan ditangani, bukan dikerjakan secara terpisah-pisah.
Salah satu yang disorot adalah masih adanya ruas jalan sekitar 170 meter yang belum terselesaikan. Menurut Om Zein, pekerjaan yang tidak dituntaskan sekaligus berpotensi membuat pemerintah harus kembali menganggarkan pekerjaan di lokasi yang sama pada tahun berikutnya.
“Kalau ada satu lokasi yang harus dibangun, tuntaskan sekalian. Jangan sedikit-sedikit, lalu tahun depan kembali lagi ke lokasi yang sama,” tegasnya.
Ia menilai pola tersebut dapat menimbulkan pemborosan karena membutuhkan proses perencanaan, kontrak dan pengawasan kembali.
“Itu dua kali perencanaan, dua kali kontrak, dua kali pengawasan. Itu pemborosan,” lanjutnya.
Persoalan lain yang ditemukan di lokasi adalah saluran air yang dinilai belum ditangani secara optimal. Om Zein meminta pembangunan jalan tidak hanya berfokus pada pengaspalan, tetapi juga memperhatikan bangunan pelengkap yang berhubungan dengan ketahanan jalan.
Menurutnya, sistem drainase menjadi bagian penting agar air tidak merusak konstruksi jalan.
“Kalau ketemu kondisi seperti ini, saluran airnya harus dibereskan dulu. Jangan hanya hotmix saja, bangunan pelengkapnya juga harus selesai,” katanya.
Ia menilai pekerjaan jalan yang tidak disertai penanganan drainase secara baik berpotensi membuat jalan kembali mengalami kerusakan dalam waktu relatif cepat.
Om Zein menegaskan kualitas pembangunan infrastruktur harus menjadi perhatian sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.
Ia mengingatkan bahwa setiap anggaran yang digunakan untuk membangun fasilitas publik merupakan uang rakyat sehingga tidak boleh digunakan secara sembarangan.
“Kita mencari uang untuk pembangunan tidak mudah. Karena itu penggunaannya harus tepat sasaran, penuh perencanaan, dan jangan dikerjakan asal-asalan,” tegasnya.
Sidak tersebut menjadi evaluasi langsung terhadap pelaksanaan pembangunan jalan di Kabupaten Purwakarta.
Pemerintah daerah menaruh perhatian pada kualitas pekerjaan agar infrastruktur yang dibangun tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga dapat digunakan masyarakat dalam jangka panjang. (yat)



