Lebih Irit 50 Persen! Begini Canggihnya Mobil Hybrid Rakitan Siswa SMK PGRI Telagasari Karawang

TELAGASARI, RAKA- Inovasi menarik datang dari siswa SMK PGRI Telagasari yang berhasil memodifikasi mobil lama menjadi kendaraan hybrid yang mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar secara signifikan.
Siswa SMK PGRI Telagasari Fikri Ahmad Syafiq mengatakan, mobil yang digunakan merupakan Toyota Starlet tahun 1997 yang masih menggunakan sistem karburator.
Karena teknologi tersebut dikenal cukup boros bahan bakar, ia bersama tim mencoba mengkonversinya menjadi mobil hybrid agar lebih efisien.
“Kalau menggunakan kombinasi mesin dan motor listrik, konsumsi bahan bakarnya bisa mencapai sekitar 25 sampai 30 kilometer per liter. Mobil ini awalnya masih karburator, jadi relatif boros. Karena itu kami coba convert ke sistem hybrid untuk mengejar efisiensi bahan bakar,” katanya, Kamis (9/4).
Dalam proses modifikasinya, sambungnya, banyak komponen mobil yang harus disesuaikan dan dibuat secara custom. Salah satu perubahan utama terdapat pada bagian penggerak roda. Ia menjelaskan, mobil tersebut pada dasarnya berpenggerak roda depan atau Front Wheel Drive (FWD).
Karena bagian belakang tidak memiliki sistem penggerak, tim kemudian memasang gardan tambahan yang diambil dari mobil lain.
“Belakangnya kan kosong karena penggeraknya di depan. Jadi kita pasang gardan dari mobil lain di roda belakang, lalu dipasang motor listrik yang terhubung ke gardan tersebut,”paparnya.
Dengan kombinasi mesin bensin dan motor listrik tersebut, Fikri mengklaim efisiensi bahan bakar mobil meningkat hingga sekitar 50 persen dibandingkan mobil konvensional.
“Kalau dibanding mobil normal, efisiensinya bisa sampai 50 persen. Saat mesin dalam posisi langsam, konsumsi bahan bakarnya bisa sekitar 1 banding 25 sampai 30 kilometer. Dalam kondisi itu mesin juga bisa mengisi baterai yang ada di mobil,” jelasnya.
Diteruskannya, energi yang tersimpan dalam baterai kemudian digunakan untuk menggerakkan motor listrik yang terpasang di roda belakang. Dalam mode listrik penuh atau pure electric, mobil ini mampu menempuh jarak hingga sekitar 50 kilometer dengan kecepatan maksimal sekitar 50 kilometer per jam.
“Kalau pakai motor listrik saja, kecepatan maksimalnya sekitar 50 kilometer per jam. Jarak tempuhnya juga bisa sampai 50 kilometer sampai baterainya habis,” ungkapnya.
Apabila daya baterai habis, kata Fikri, mesin bensin dapat dihidupkan kembali. Namun mesin tersebut hanya bekerja pada putaran rendah untuk mengisi ulang baterai sehingga penggunaan motor listrik bisa lebih lama. “Kalau baterainya habis, kita hidupkan mesin, tapi posisinya hanya langsam untuk ngecas baterai saja,”ujarnya.
Meski demikian, Fikri mengakui mobil tersebut masih akan terus dikembangkan. Saat ini beberapa komponen seperti instalasi kabel masih dalam tahap penyempurnaan. Ke depan, tim berencana mengganti baterai dengan jenis lithium agar performa kendaraan lebih optimal.
“Ke depan mungkin fiturnya akan di-upgrade lagi. Sekarang kabel-kabelnya masih terlihat berantakan, masih tahap pengembangan. Baterainya juga rencananya ingin diganti pakai baterai lithium, tapi harganya memang cukup mahal,”paparnya.
Ia menyebut proses pembuatan dan pengembangan kendaraan hybrid tersebut memakan waktu cukup lama, yakni sekitar enam bulan hingga satu tahun untuk setiap tahap pengerjaan. Hingga kini proyek tersebut telah berjalan lebih dari tiga tahun.
”Mobil hasil inovasi siswa SMK PGRI Telagasari ini juga pernah mengikuti ajang lomba Teknologi Tepat Guna di Bandung sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan inovasi pelajar di bidang teknologi otomotif,”tutupnya. (zal)



