Program Gentengnisasi Maruarar Sirait: Potensi Rp27 Miliar Mengalir ke Perajin Genteng Plered

PURWAKARTA, RAKA – Program gentengnisasi yang digagas pemerintah pusat mulai menunjukkan efek kejut bagi industri lokal. Dari kunjungan langsung Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait ke sentra genteng Plered, Kabupaten Purwakarta, terlihat jelas satu arah kebijakan penggunaan produk lokal bukan lagi opsi, tapi dorongan serius yang berpotensi membanjiri UMKM dengan permintaan besar.
Dalam peninjauan yang turut dihadiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, hingga pengusaha nasional James Riady, sinyal kuat kolaborasi antara pemerintah dan swasta semakin nyata.
Menteri PKP Maruarar Sirait atau yang akrab disapa Ara menegaskan, program gentengnisasi tidak boleh dijalankan sembarangan. Ia menyebut, pelaksanaan harus tetap mengikuti aturan yang berlaku.
“Program ini harus transparan dan akuntabel. Kita ingin cepat, tapi juga tepat,” ujarnya di lokasi, Selasa (14/4).
Namun di balik penegasan itu, tersimpan potensi ekonomi yang tidak kecil. Ara mengungkapkan, kebutuhan genteng untuk program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Jawa Barat tahun ini mencapai angka fantastis.
Ia menjelaskan secara langsung bahwa 40.000 unit rumah akan dibangun, dengan kebutuhan sekitar 300 genteng per unit. Jika dihitung dengan harga rata-rata Rp2.300 per pcs, maka perputaran uang bisa menyentuh Rp27,6 miliar. Angka ini dinilai bisa menjadi durian runtuh bagi pelaku UMKM genteng lokal.
Tak berhenti di situ, pemerintah juga mengincar sektor rumah subsidi sebagai pasar berikutnya. Secara tidak langsung, Ara menegaskan bahwa seluruh rumah subsidi di Jawa Barat didorong menggunakan genteng lokal. Dengan kebutuhan sekitar 730 pcs per unit dan jumlah pembangunan mencapai puluhan ribu rumah, permintaan dipastikan melonjak tajam.
Langkah ini dinilai sebagai strategi agresif pemerintah untuk memaksa pasar berpihak pada produk dalam negeri. Jika berhasil, UMKM genteng yang selama ini berjalan di tempat bisa terdongkrak naik kelas.
Sebagai gambaran, pada 2025 lalu saja, pemesanan genteng baru menyentuh sekitar 3 juta pcs yang dipenuhi oleh 72 pabrik di Plered. Bandingkan dengan potensi tahun ini yang bisa berlipat ganda, situasi ini membuat banyak pihak menyebut industri genteng tengah memasuki fase booming.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyambut langkah ini dengan nada optimistis. Ia menyatakan bahwa penggunaan genteng lokal akan berdampak langsung pada ekonomi daerah.
“Kami sangat mengapresiasi program ini karena bisa menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Lebih jauh, ia juga menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk tidak sekadar mendukung secara wacana. Secara tidak langsung, Dedi menegaskan pihaknya siap mempermudah perizinan serta mendorong peningkatan kesejahteraan pekerja di sektor genteng.
Di sisi lain, dukungan sektor swasta mulai terlihat konkret. Pengusaha James Riady mengungkapkan bahwa pihaknya langsung mengambil langkah cepat dengan memesan 44.000 pcs genteng untuk proyek Hunian Warisan Bangsa milik Lippo Group. Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pasar genteng lokal mulai dilirik serius oleh korporasi besar.
Dengan dorongan dari pemerintah dan suntikan permintaan dari swasta, program gentengnisasi kini tidak hanya berbicara soal penyediaan rumah layak. Lebih dari itu, program ini berpotensi menjadi mesin baru penggerak ekonomi daerah. (yat)



