
PURWAKARTA, RAKA – Sejarah lahirnya Kabupaten Purwakarta tidak bisa dilepaskan dari peran para perintis yang membuka jalan bagi terbentuknya wilayah tersebut. Salah satu tokoh yang dinilai memiliki peran penting adalah Dalem Santri atau Raden Adipati Aria Soerianata, Bupati Karawang periode 1820–1827, yang memindahkan ibu kota Kabupaten Karawang dari Bunut Kertajaya ke Wanayasa pada 1821.
Pemindahan pusat pemerintahan tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian sejarah yang kemudian mengantarkan lahirnya Purwakarta. Beberapa tahun setelah Dalem Santri memimpin, adiknya, Dalem Sholawat atau Raden Adipati Aria Soeriawinata, melanjutkan kepemimpinan dan memindahkan ibu kota Kabupaten Karawang dari Wanayasa ke Sindang Kasih pada 1830.
Setahun kemudian, nama Purwakarta dikukuhkan melalui besluit atau keputusan pemerintah kolonial Belanda tertanggal 20 Juli 1831 Nomor 2. Tanggal tersebut kemudian menjadi dasar peringatan Hari Jadi Purwakarta setiap 20 Juli.
Dalam rangkaian sejarah itu, Dalem Santri menempati posisi penting sebagai salah satu tokoh yang membuka jalan bagi perkembangan Purwakarta. Jika pemindahan ibu kota ke Wanayasa pada 1821 tidak terjadi, jalur sejarah menuju terbentuknya Purwakarta bisa saja berbeda.
Julukan Dalem Santri diberikan masyarakat karena Raden Adipati Aria Soerianata dikenal sebagai sosok yang taat beribadah. Hal serupa juga melekat pada adiknya, Dalem Sholawat, yang disebut mendapat julukan tersebut karena kebiasaannya berselawat dalam berbagai keadaan.
Keduanya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kuat dengan pendidikan keagamaan. Dalam tradisi kepemimpinan pada masa itu, seorang bupati tidak hanya menjalankan peran sebagai umaro atau pemimpin pemerintahan, tetapi juga diharapkan memiliki pengetahuan dan keteladanan dalam kehidupan beragama.
Menurut riwayat keluarga yang disampaikan dalam kegiatan napak tilas kesejarahan, Dalem Santri dan Dalem Sholawat memiliki hubungan garis keturunan dengan trah Pajajaran melalui kakek mereka, Raden Muhammad Thohir, yang dikenal sebagai tokoh ulama di Bogor. Sementara dari garis nenek mereka, Ratu Syarifah, disebut terdapat hubungan dengan trah Kesultanan Banten.
Selama memimpin di Wanayasa, Dalem Santri meninggalkan jejak yang masih dikenal masyarakat. Salah satunya adalah Mata Air Cibulakan yang berada di Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa. Mata air tersebut hingga kini masih dimanfaatkan sebagai sarana pengairan dan lokasinya tidak jauh dari makam Dalem Santri.
Keberadaan mata air dan makam tersebut menjadi bagian dari peninggalan sejarah yang dapat ditelusuri untuk memahami perkembangan wilayah Wanayasa pada masa pemerintahan Dalem Santri.
Upaya mengenang peran Dalem Santri kembali mengemuka melalui kegiatan napak tilas kesejarahan yang digelar bersama BELA PURWAKARTA, wadah silaturahmi lintas elemen masyarakat di Purwakarta.
Dalam kegiatan tersebut, BELA PURWAKARTA membersamai Raden Boyke Pranata Soerianata, keturunan generasi ketujuh Dalem Santri yang baru kembali dari Amerika Serikat setelah berkarier selama hampir 30 tahun.
Boyke diketahui berkiprah sebagai teknisi di Harley-Davidson Company di Sacramento, California. Dalam riwayat yang disampaikan pihak keluarga, ia disebut sebagai satu-satunya master technician dari Asia Tenggara yang berkiprah di perusahaan tersebut.
Kepulangannya ke Purwakarta tidak hanya menjadi momentum untuk mengunjungi keluarga, tetapi juga menziarahi makam leluhurnya di Wanayasa. Boyke juga berencana menggelar haul Dalem Santri sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya menjaga ingatan terhadap tokoh yang memiliki peran dalam sejarah Purwakarta.
Founder BELA PURWAKARTA, Aa Komara, menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, napak tilas dan ziarah menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali tokoh-tokoh yang berperan dalam perjalanan sejarah daerah kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Kegiatan silaturahmi dan ziarah itu turut dihadiri Kabag Protokol Pemda Purwakarta Hilman Nugraha, Camat Wanayasa Heru Agus Riyanto, Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Wanayasa Gunawan Adriana, Kepala Desa Wanayasa Makmur Hidayat, Wakil Ketua BPD Desa Wanayasa Rina Sri Nurbaeti, serta Kepala Desa Babakan Endin Sopyudin atau Ebet.
Sejumlah anggota BELA PURWAKARTA juga hadir, di antaranya Ali Novel Magad, Sahril Sidik atau Boriel, Asep Richo, dan Uu Wijaya.
Duta Pariwisata Jawa Barat sekaligus Duta Batik Persahabatan Jawa Barat 2026, Vera Novia, yang juga Mojang Kabupaten Purwakarta 2024, ikut dalam kegiatan tersebut.
Aa Komara mengatakan kehadiran Vera menjadi bentuk apresiasi generasi muda terhadap leluhur dan sejarah Purwakarta.
“Kehadiran Vera Novia sebagai bentuk apresiasi mewakili Gen Z terhadap leluhur Purwakarta. Aktivitas ziarah ini sekaligus bentuk edukasi agar kalangan generasi penerus memahami sejarah Purwakarta secara utuh, terlebih lagi bagi seorang Mojang atau Duta, yang harus mampu menginformasikan kepada khalayak luas tentang Purwakarta secara detail, terutama dari aspek historis,” tutur Aa Komara.
Vera Novia menilai kunjungan ke makam Dalem Santri tidak hanya berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur, tetapi juga membuka peluang pengembangan wisata religi di Kecamatan Wanayasa.
“Selain bentuk penghormatan terhadap leluhur, kunjungan ini sangat penting untuk menggali potensi pengembangan wisata religi. Tentunya ketika di masa depan situs keramat Dalem Santri ini menjadi destinasi wisata religi, maka akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal Desa Babakan dan Kecamatan Wanayasa serta Kabupaten Purwakarta pada umumnya, dengan banyaknya peziarah dari lintas kota atau provinsi ke lokasi ini,” ujarnya.
Potensi tersebut juga disampaikan Kepala Desa Babakan, Endin Sopyudin. Ia mengatakan makam Dalem Santri selama ini telah dikunjungi peziarah dari sejumlah daerah, termasuk Karawang, Bogor, Bandung, hingga Lamongan, Jawa Timur.
Menurut Endin, pengembangan wisata religi ke depan dapat dilakukan dengan menghubungkan sejumlah lokasi ziarah yang memiliki nilai sejarah dan keagamaan di Purwakarta.
“Bisa saja ke depannya tercipta perpaduan paket perjalanan wisata religi: Dalem Santri, Syekh Baing Yusuf, dan Mama Sempur Plered,” ujarnya.
Pengembangan potensi tersebut membutuhkan kerja sama antara pemerintah daerah, pemerintah desa, keluarga keturunan tokoh, serta masyarakat. Selain menjaga kondisi makam dan peninggalan sejarah, kolaborasi juga diperlukan agar pengembangan wisata tetap menghormati nilai sejarah dan budaya setempat.
Bagi Purwakarta, mengenang Dalem Santri bukan semata-mata menelusuri silsilah keluarga atau melakukan ziarah. Lebih dari itu, upaya tersebut menjadi bagian dari merawat ingatan tentang para perintis yang turut membentuk perjalanan sejarah daerah hingga dikenal seperti sekarang. (yat)


