
KARAWANG, RAKA – Siswa, guru, dan orang tua murid SDN Dawuan Tengah 3, Kecamatan Cikampek, menyampaikan aspirasi kepada perusahaan produksi aspal yang berada tepat di samping lingkungan sekolah. Mereka memprotes asap dan bau menyengat yang dihasilkan dari aktivitas produksi karena dinilai mengganggu proses kegiatan belajar mengajar (KBM) serta kesehatan warga sekolah.
Salah seorang guru SDN Dawuan Tengah 3, Dedi Dwi Prasetiyanto S.Pd mengatakan, aksi penyampaian aspirasi dilakukan karena kondisi pencemaran udara sudah sering terjadi dan dalam dua hari terakhir dirasakan semakin parah.
“Lokasi perusahaan hanya dipisahkan oleh tembok dengan sekolah. Asap dan bau menyengat dari aktivitas produksi sangat mengganggu, terutama saat mesin dinyalakan pada pagi hari ketika siswa sedang belajar maupun beraktivitas di luar kelas,”katanya, Rabu (29/7).
Menurut Dedi, aroma menyengat dari produksi aspal membuat suasana belajar menjadi tidak nyaman. Tidak hanya siswa, para guru juga merasakan dampaknya, terlebih saat kegiatan pembelajaran dilakukan di luar ruangan.
“Belum ada siswa yang sampai pingsan, tetapi mereka jelas terganggu. Bayangkan saat belajar, udara yang masuk justru dipenuhi bau menyengat. Saya sendiri sebagai guru olahraga yang lebih banyak mengajar di luar ruangan juga merasakan dampaknya,”terangnya.
Ia menjelaskan, persoalan tersebut sebenarnya sudah lama dikeluhkan warga sekitar. Bahkan, pemerintah kecamatan dan masyarakat setempat juga telah beberapa kali menyampaikan keberatan terhadap aktivitas perusahaan.
Karena kondisi yang semakin mengganggu, pihak sekolah bersama sejumlah orang tua siswa dan didampingi pemerintah kecamatan mendatangi perusahaan untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Mereka meminta agar mesin produksi tidak dioperasikan pada pagi hingga siang hari selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
”Kami hanya meminta kerja samanya. Selama aktivitas KBM berlangsung sampai sekitar pukul 13.00 WIB, jangan menyalakan mesin produksi. Kalau beroperasi sore atau malam hari itu silakan, yang penting jangan mengganggu anak-anak saat belajar,” jelasnya.
Dedi mengungkapkan, pihak perusahaan menerima aspirasi tersebut dengan baik. Saat warga menyampaikan keluhan, perusahaan langsung menghentikan operasional mesin dan meminta maaf atas gangguan yang ditimbulkan. Perusahaan juga menyampaikan bahwa saat itu terdapat kebutuhan produksi yang mendesak.
”Mereka langsung mematikan mesin dan menghentikan operasional. Mereka juga meminta maaf. Namun kami berharap ke depan ada solusi yang jelas agar kejadian seperti ini tidak terus berulang,” katanya.
Ia juga menilai keberadaan pabrik aspal di kawasan yang padat permukiman dan berdekatan dengan sekolah kurang tepat. Menurutnya, dibutuhkan komitmen bersama antara pihak perusahaan, pemerintah kecamatan, dan sekolah agar aktivitas industri tidak mengorbankan kenyamanan serta kesehatan masyarakat.
”Kami berharap ada kesepakatan yang benar-benar dijalankan. Warga dan siswa berhak mendapatkan udara bersih, terutama pada pagi hari saat aktivitas belajar mengajar berlangsung. Jangan sampai persoalan ini terus berlanjut,”tutupnya. (zal)



