Tak Dendam Meski Dilecehkan, Bu Atun Guru SMAN 1 Purwakarta: ‘Anak Nakal Tak Selamanya Nakal’

PURWAKARTA, RAKA – Di tengah sorotan publik atas kasus viral yang melibatkan siswa SMAN 1 Purwakarta, suara berbeda justru datang dari sosok guru yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
Alih-alih menunjukkan kemarahan, Bu Atun memilih merespons dengan sikap yang lebih tenang dan penuh refleksi.
Atun menegaskan bahwa dirinya tidak menyimpan dendam terhadap para siswa yang telah mengejeknya. Ia bahkan menyebut kejadian itu sebagai bentuk kekeliruan yang masih bisa diperbaiki.
“Saya ikhlas. Mungkin itu bagian dari kekeliruan mereka, salah melangkah,” ujarnya, Senin (20/4).
Ia juga menyampaikan harapannya agar para siswa tersebut tetap memiliki masa depan yang baik, meskipun telah melakukan kesalahan yang cukup serius.
“Saya berharap anak-anak itu selamat dunia akhirat, dan sukses dunia akhirat, sekalipun mereka melakukan kesalahan besar,” katanya.
Sebagai seorang pendidik, Atun menekankan bahwa perannya bukan sekadar mengajar, tetapi juga membentuk karakter. Ia menilai, kesalahan yang dilakukan siswa bukanlah akhir dari segalanya.
“Yang salah tidak selamanya salah. Anak yang nakal tidak selamanya nakal. Kami ini lembaga pendidikan, tujuannya memang untuk memperbaiki,” tegasnya.
Atun juga menyinggung bahwa dalam proses pembelajaran, setiap keputusan yang diambil tetap mempertimbangkan keadilan bagi seluruh siswa. Ia menjelaskan bahwa perubahan giliran presentasi yang sempat terjadi bukan tanpa alasan.
Menurutnya, ada pertimbangan kenyamanan kelas saat itu. Ia mengatakan bahwa kelompok tersebut dipindahkan ke sesi terakhir karena dinilai berpotensi mengganggu alur pembelajaran jika tetap tampil di awal.
“Saya menyampaikan ke yang lain karena mereka merasa tidak nyaman. Jadi saya tempatkan di belakang, tapi tetap hak mereka untuk tampil harus dihargai,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil sambil melakukan pengecekan ulang terhadap data yang ada, karena terdapat ketidaksesuaian informasi yang diterimanya dengan kondisi di lapangan.
“Data yang diberikan ke saya tidak sesuai dengan yang mereka sampaikan saat itu, makanya harus dicek dulu,” tambahnya.
Respons Atun ini menjadi sorotan tersendiri. Di saat publik ramai mengecam perilaku siswa, ia justru memilih pendekatan yang lebih mendidik ketimbang menghakimi. (yat)



