Uncategorized
Trending

Tips Memilih Hewan Kurban Sehat di Pasar Ciwareng: Periksa Kaki dan Kelincahan Tubuh

PURWAKARTA, RAKA – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, aktivitas jual beli hewan kurban di Pasar Hewan Ciwareng mulai menggeliat.

Suasana pasar yang biasanya dipenuhi ratusan ekor sapi dan kerbau kini tampak lebih padat dibanding hari biasa. Deretan truk pengangkut hewan silih berganti memasuki area pasar sejak pagi hari, sementara para pedagang dan calon pembeli terlihat sibuk menawar harga sapi kurban.

Kondisi tersebut dipicu meningkatnya populasi hewan yang masuk ke pasar menjelang Iduladha. Kepala UPTD Pasar Hewan Ciwareng, Asep Sunarma menyebutkan, terjadi lonjakan populasi hewan hingga sekitar 25 persen dibanding hari normal.

“Untuk kondisi hari Senin sekarang memang ada peningkatan populasi hewan yang dijual di Pasar Hewan Ciwareng dari hari biasanya, kurang lebih sekitar 25 persen,” ujar Asep, Senin (11/5).

Ia menjelaskan, biasanya populasi hewan yang masuk ke pasar berkisar 200 ekor. Namun kini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 260 ekor sapi dan kerbau.

“Peningkatan populasinya dari biasanya 200, sekarang naik jadi 260 ekoran. Apalagi menjelang Iduladha masih ada dua kali hari pasaran Senin lagi, ini masih bisa terus meningkat,” katanya.

Tak hanya jumlah hewan yang bertambah, harga sapi kurban juga mulai merangkak naik. Menurut Asep, harga sapi jantan untuk kebutuhan kurban mengalami kenaikan sekitar Rp2 juta dibanding tahun sebelumnya.

“Kalau penjualan itu untuk sapi kurban jantan yang biasanya tahun kemarin Rp21 juta, sekarang Rp23 juta, jadi ada kenaikan harga,” ucapnya.

Kenaikan harga tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari biaya transportasi hingga proses perizinan pengiriman hewan dari luar daerah.

“Kenaikan harga itu karena biaya transportasi sekarang naik. Apalagi yang dari Lampung, ngurus surat izinnya agak susah karena ada karantina dan penjagaan. Jadi kenaikannya dari biaya cost itu, ditambah menjelang Iduladha permintaan juga meningkat,” jelasnya.

Pantauan di lokasi, pasar tampak ramai sejak pagi. Suara lenguhan sapi bersahut-sahutan dengan aktivitas tawar-menawar para pembeli. Beberapa pedagang terlihat memandikan sapi dagangannya, sementara calon pembeli memeriksa kondisi hewan secara teliti, mulai dari kaki, bobot tubuh hingga kelincahan saat berjalan.

Hewan-hewan yang dijual di Pasar Hewan Ciwareng mayoritas didatangkan dari sejumlah daerah di Pulau Jawa hingga luar pulau. Para pedagang berasal dari Jember, Banyuwangi, Pati, Kudus hingga Lampung.

“Kalau penjual kebanyakan dari Jember, Jawa Timur, Banyuwangi, Pati, Kudus. Kalau dari luar pulau itu dari Lampung. Untuk kerbau mah lokal di sini,” kata Asep.

Sementara pembeli datang dari berbagai daerah di Jawa Barat hingga Banten seperti Purwakarta, Karawang, Subang, Bekasi, Sukabumi, Cianjur hingga Serang.

Di tengah meningkatnya lalu lintas perdagangan hewan, pihak UPTD memastikan kondisi pasar tetap aman dari kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Pemeriksaan kesehatan hewan dilakukan ketat di pintu masuk pasar sebelum hewan diperbolehkan masuk area jual beli.

“Kalau ada sapi yang kurang sehat kita keluarkan, tidak dimasukkan. Ada screening dulu di depan. Pagi-pagi kalau ada yang masuk kita cek dulu sama petugas,” ujarnya.

Asep juga mengimbau masyarakat agar lebih teliti saat memilih hewan kurban. Menurutnya, ciri hewan sehat bisa dilihat dari gerakan tubuh dan kondisi kakinya.

“Kalau beli sapi harus dilihat gerakannya, jangan lesu. Kakinya juga harus dicek, kalau perlu dibawa jalan dulu. Jadi kalau kelihatan pincang jangan dipilih. Intinya masyarakat harus pandai memilih,” pungkasnya. (yat)

Related Articles

Back to top button