KARAWANG, RAKA – Tidak banyak yang mampu menyeimbangkan peran sebagai pendidik sekaligus pengusaha. Namun Daus Mulyana berhasil membuktikan bahwa kapur tulis dan secangkir kopi dapat berjalan beriringan untuk tujuan yang sama: membangun karakter dan kemandirian generasi muda.
Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) itu dikenal sebagai pendiri Cahdas Coffee, sebuah kedai yang tidak hanya menjadi tempat menikmati kopi, tetapi juga ruang bertukar gagasan dan belajar bersama.
Pengalaman membangun usaha sejak 2019 menjadi modal berharga yang ia bawa ke dunia pendidikan. Bagi Daus, pendidikan dan kewirausahaan bukan dua hal yang bertolak belakang. Justru keduanya saling menguatkan dalam membentuk pribadi yang tangguh, kreatif, dan memiliki kepedulian sosial.
“Wirausaha mengajarkan saya arti perjuangan, tanggung jawab, dan manajemen krisis. Semua itu saya bawa ke kelas,” ujar Daus, Rabu (24/6).
Berawal dari sebuah kedai sederhana, Cahdas Coffee berkembang menjadi ruang kolaborasi bagi pelajar, mahasiswa, hingga komunitas lokal. Di tempat itu, kopi menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dan melahirkan berbagai ide positif.
Pengalaman mengelola usaha membuat Daus terbiasa menghadapi tantangan, membangun komunikasi, dan memimpin tim. Nilai-nilai tersebut kemudian diterapkannya dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Di dalam kelas, ia tidak hanya menyampaikan materi tentang Pancasila dan kewarganegaraan. Daus berupaya menanamkan nilai integritas, gotong royong, tanggung jawab, serta keberanian berpikir kritis kepada para siswa.
Menurutnya, generasi muda harus memiliki tiga bekal penting untuk menghadapi masa depan, yakni jiwa kewirausahaan, kepemimpinan, dan kemampuan berpikir kritis. “Tanpa itu, ijazah hanya menjadi selembar kertas,” katanya.
Meski aktif mengajar, Daus tetap mengembangkan Cahdas Coffee sebagai laboratorium kehidupan yang memberikan pengalaman nyata tentang dunia usaha, pelayanan, dan etika kerja kepada siapa saja yang datang.
Baginya, menjadi guru dan pengusaha bukanlah dua pilihan yang harus dipisahkan. Keduanya merupakan bentuk pengabdian yang sama-sama bertujuan menciptakan dampak positif bagi masyarakat.
“Keberhasilan tidak diukur dari jabatan, tetapi dari berapa banyak orang yang hidupnya menjadi lebih baik karena kita,” tuturnya.
Kisah Daus Mulyana menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat dimulai dari langkah sederhana. Dari ruang kelas hingga kedai kopi, ia terus menebar manfaat dan menginspirasi generasi muda untuk berani berkarya, berwirausaha, dan mengabdi. (zal)



