
KARAWANG, RAKA – Sebanyak 60 petani di Dusun Ciberem, Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, terpaksa membangun bendungan sementara secara swadaya untuk mengairi sekitar 40 hektare lahan sawah yang terdampak kekeringan. Petani berharap pemerintah membangun bendungan permanen agar persoalan pengairan tidak terus berulang setiap musim tanam.
Ketua Kelompok Tani H. Bidin mengatakan, pembangunan bendungan sementara menjadi langkah yang dilakukan petani agar lahan sawah tetap mendapatkan pasokan air.
Sebab, bendungan di Sungai Cidawolong yang selama ini menjadi sumber pengairan mengalami kerusakan. Menurutnya, bangunan air tersebut sebelumnya dibangun pada 2020. Namun, bendungan hanya mampu bertahan sekitar satu tahun sebelum mengalami kerusakan.
“Setiap tahun kami terpaksa membangun bendungan secara mandiri dan swadaya dari para petani. Sekarang kami sedang membangun lagi karena bendungan ini cukup efektif untuk mengaliri air ke sawah,” katanya, Selasa (4/7).
Ia menyebut, untuk sekali membangun bendungan sementara, petani harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 30 juta. Biaya tersebut ditanggung secara mandiri oleh para petani yang membutuhkan pasokan air untuk mengolah lahan mereka.
Menurut Bidin, kondisi tersebut cukup ironis di tengah dorongan pemerintah terhadap program swasembada pangan. Pasalnya, petani yang menjadi salah satu penopang produksi pangan justru masih menghadapi persoalan mendasar berupa ketersediaan infrastruktur pengairan.
Berbagai upaya telah dilakukan petani untuk memenuhi kebutuhan air. Salah satunya menggunakan pompa air. Namun, cara tersebut dinilai kurang efektif karena membutuhkan biaya bahan bakar yang tinggi dan pompa harus terus dijaga untuk mengantisipasi kehilangan.
Selain itu, debit air dari pompa juga belum tentu mampu mengaliri seluruh lahan sawah. Bidin bahkan mengaku telah mengeluarkan sekitar Rp 15 juta untuk membeli peralatan pendukung berupa kabel dan satelit, tetapi langkah tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan pengairan secara menyeluruh.
”Pompa air juga tidak efektif karena biaya bahan bakarnya tinggi. Pompa harus dijaga karena takut hilang, sementara airnya belum tentu bisa mengaliri semua sawah,” ujarnya.
Karena itu, petani meminta pemerintah membangun bendungan permanen di Sungai Cidawolong. Infrastruktur tersebut dinilai menjadi solusi jangka panjang agar petani tidak terus mengeluarkan biaya puluhan juta rupiah setiap tahun untuk membuat bendungan sementara.
Salah seorang petani Olim Subarjah, juga meminta pemerintah dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut. Ia berharap pembangunan bendungan dilakukan dengan konstruksi yang kuat dan memiliki daya tahan panjang.
“Kami meminta kepada pemerintah dan Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi agar membangun bendungan secara permanen. Jangan dibuat bendungan yang abal-abal,”terangnya.
Menurutnya, bendungan sementara yang dibangun secara swadaya tidak akan mampu bertahan lama. Kondisi tersebut membuat petani kembali menghadapi persoalan yang sama pada musim tanam berikutnya.
“Hari ini petani tidak bisa menanam padi. Kalau kami tidak bisa menanam padi, kami mau makan apa? Bantuan juga tidak ada. Bendungan yang kami buat ini tidak akan bertahan lama. Kami mohon pemerintah membuat bendungan yang bagus dan bisa bertahan lama,”tutupnya. (zal)


