
PURWAKARTA, RAKA – Persoalan sampah di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengangkut sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA). Dengan produksi hampir 200 ton sampah setiap hari dari 11 kecamatan, pemerintah daerah mendorong perubahan sistem pengelolaan melalui pemilahan sejak dari rumah.
Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Purwakarta, Agung Darwis Suriaatmadja, mengatakan volume sampah yang tinggi menjadi tantangan serius karena belum seluruh produksi sampah masyarakat terlayani.
“Hingga saat ini, Kabupaten Purwakarta memproduksi hampir 200 ton sampah per hari dari 11 kecamatan dan belum seluruhnya terlayani. Untuk itu, kami tegaskan perlu adanya pembangunan sistem pengelolaan sampah yang komprehensif dengan pemilahan sejak dari rumah hingga di tempat pembuangan akhir atau TPA,” kata Agung di Prime Plaza Hotel Kota Bukit Indah Purwakarta, Selasa (15/9/2026).
Menurut Agung, persoalan sampah harus ditangani melalui sistem yang terintegrasi, bukan hanya mengandalkan pengangkutan dan penanganan di TPA. Pemilahan dari sumber dinilai menjadi bagian penting agar sampah dapat dikelola secara lebih efektif dan memiliki nilai manfaat.
Ia menyebut sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan. Jika dikelola dengan baik, sampah juga dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung kelestarian lingkungan.
Agung mengatakan, kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah menjadi momentum untuk menyatukan langkah seluruh pemangku kepentingan. Sistem pengelolaan sampah terpilah diharapkan dapat dimulai dari tingkat rumah tangga, kemudian diterapkan di desa dan kelurahan hingga terhubung dengan sistem pengelolaan di tingkat kabupaten.
“Melalui kegiatan ini juga diharapkan menjadi momentum untuk membangun karakter dan budaya masyarakat dalam mengelola sampah,” ujarnya.
Penerapan sistem tersebut membutuhkan perubahan kebiasaan masyarakat, terutama dalam memisahkan sampah sejak dari sumbernya. Sampah rumah tangga diharapkan tidak langsung tercampur sehingga proses pengolahan dan pemanfaatannya dapat dilakukan secara lebih optimal.
Selain mendorong peran masyarakat, Agung meminta perangkat daerah ikut memberikan dukungan sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Dukungan tersebut terutama diarahkan kepada kepala desa dan lurah agar penerapan tata kelola sampah terpilah dapat berjalan di wilayahnya.
Agung menegaskan, penanganan sampah membutuhkan kerja bersama lintas sektor. Pemerintah daerah tidak dapat menyelesaikan persoalan tersebut tanpa dukungan perangkat daerah, pemerintah desa dan kelurahan, serta partisipasi masyarakat.
Dengan sistem pengelolaan yang lebih menyeluruh, Pemkab Purwakarta berharap persoalan sampah dapat ditangani mulai dari hulu hingga hilir. Langkah itu sekaligus diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan membuka peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber nilai ekonomi.
“Untuk itu, kami tegaskan perlu adanya pembangunan sistem pengelolaan sampah yang komprehensif dengan pemilahan sejak dari rumah hingga di tempat pembuangan akhir atau TPA,” tegas Agung.
Pemerintah Kabupaten Purwakarta pun mendorong agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan pembersihan lingkungan, tetapi berkembang menjadi budaya bersama yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh lapisan masyarakat. (yat)



