Karawang
Trending

Bahasa Indonesia Menembus Batas Negara: Sebuah Catatan Linguistik

Bahasa Indonesia sudah bergerak ke luar rumahnya sendiri. Pergerakan itu tidak selalu ramai, tidak selalu menjadi berita utama, dan tidak selalu dirayakan dalam panggung besar kenegaraan. Di banyak tempat, bahasa Indonesia telah dikenalkan, dipelajari, diucapkan, dan diapresiasi oleh penutur asing. Ada yang mengenalnya melalui kampus, ada yang mempelajarinya melalui Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), ada pula yang bersentuhan dengannya melalui makanan, tarian, percakapan sederhana, dan perjumpaan budaya. Bahasa Indonesia memperlihatkan dirinya sebagai bahasa yang hidup, bergerak, dan mendapat tempat dalam pergaulan antarbangsa.

Sebagai dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang sehari-hari bergelut dengan linguistik, saya memahami pentingnya penguasaan bahasa asing. Bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, dan bahasa asing lainnya membuka jalan bagi ilmu pengetahuan, hubungan akademik, dan percakapan dunia. Pengalaman mengajar dan mempelajari bahasa asing memberi satu pelajaran penting: semakin seseorang mengenal bahasa lain, semakin besar pula peluangnya untuk menghargai bahasa sendiri. Bahasa asing membuka jendela dunia. Bahasa Indonesia menjaga kita tetap mengenali rumah budaya sendiri. Keduanya dapat berjalan bersama tanpa saling meniadakan.

Dalam linguistik, bahasa tidak cukup dipahami sebagai bunyi, kata, dan kalimat. Bahasa bertemali dengan cara manusia berpikir, merasa, menyapa, menghormati, dan membangun hubungan sosial. Saat bahasa Indonesia diperkenalkan kepada penutur asing, yang hadir bukan hanya kosakata, struktur kalimat, atau pelafalan. Yang ikut terbawa adalah cara orang Indonesia mengatakan “terima kasih”, “silakan”, “maaf”, “apa kabar”, atau “mari makan”. Kata-kata sederhana itu menyimpan kebudayaan yang panjang. Di dalamnya ada kesantunan, keakraban, penghormatan, dan kebiasaan menjaga hubungan baik dengan orang lain. Melalui bahasa, orang asing dapat membaca wajah sosial masyarakat Indonesia.

Dalam perjalanan bahasa Indonesia ke ranah internasional, BIPA menjadi salah satu jalan penting. Penutur asing belajar bahasa Indonesia sekaligus mengenal cara orang Indonesia hidup, berinteraksi, bercanda, menerima tamu, menghormati orang tua, dan merawat kebersamaan. Indonesia dikenal melalui Bali, batik, rendang, angklung, dan keindahan alamnya. Indonesia juga dapat dikenal melalui bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Indonesia menjadi pintu masuk yang hangat untuk memahami bangsa ini dari dekat.

Perjalanan bahasa Indonesia menembus batas negara tidak selalu bermula dari forum besar atau pidato resmi. Sering kali perjalanannya tumbuh dari ruang kelas, percakapan sederhana, keberanian mahasiswa memperkenalkan kata-kata Indonesia, makanan yang disajikan, tarian yang ditampilkan, dan senyum saat menjelaskan makna budaya kepada orang asing. Pengalaman FUB Internasional FKIP UNSIKA di Thammasat University, Thailand, memperlihatkan hal itu. Mahasiswa FKIP UNSIKA memperkenalkan BIPA, budaya Indonesia, makanan khas, dan tarian tradisional kepada mahasiswa asing. Dari kegiatan seperti ini, bahasa Indonesia hadir sebagai pengalaman budaya yang dapat dipelajari, dirasakan, dan diapresiasi.

Pengalaman FKIP UNSIKA di Thammasat University, Thailand, menunjukkan bahwa bahasa Indonesia dapat berjalan jauh melalui jejaring akademik, kepercayaan kepada mahasiswa, dan pengenalan budaya yang hidup. Dari Karawang, mahasiswa membawa nama kampus, bahasa, rasa, dan wajah budaya Indonesia ke hadapan penutur asing. Dalam suasana akademik yang bertemali dengan perjumpaan budaya, bahasa Indonesia hadir sebagai bahasa yang dapat dipelajari, dinikmati, dan dihargai. Pengalaman tersebut memberi keyakinan bahwa bahasa Indonesia memiliki martabat untuk hadir dalam pergaulan antarbangsa.

Mencintai bahasa Indonesia tidak cukup diucapkan sebagai kebanggaan. Cinta kepada bahasa tampak dalam cara kita merawatnya: dalam tulisan, percakapan, pengajaran, pemberitaan, dan kerja akademik. Bahasa Indonesia perlu terus tumbuh mengikuti zaman tanpa tercerabut dari akar kebudayaannya. Dalam pengajaran BIPA, penutur asing perlu diajak mengenal denyut sosial bahasa Indonesia: cara menyapa, cara menghormati, cara bercanda, cara menerima tamu, dan cara membangun kedekatan. Bahasa Indonesia dipelajari sebagai bahasa, sekaligus dirasakan sebagai pengalaman budaya.

Bahasa Indonesia menyimpan pengalaman historis yang panjang. Bahasa ini tumbuh sebagai bahasa pemersatu di tengah bangsa yang sangat majemuk. Di dalam bahasa Indonesia tersimpan sejarah, keberagaman daerah, politik kebangsaan, dan kehendak untuk hidup bersama sebagai satu bangsa. Bahasa Indonesia lahir dari kemampuan merawat perbedaan. Saat bahasa Indonesia diperkenalkan kepada penutur asing, pengalaman bangsa Indonesia dalam membangun kebersamaan di tengah keragaman ikut terbawa.

Bahasa Indonesia yang sudah menembus batas negara memperlihatkan bahwa bahasa ini makin banyak dipelajari, makin luas diperjumpakan, dan makin kuat membawa nilai budaya Indonesia di hadapan bangsa lain. Di dalamnya ada silaturahmi tentang cara berpikir, kebiasaan sosial, dan pengalaman hidup yang saling menyapa. Mempelajari bahasa asing dan memperkenalkan bahasa Indonesia bukan dua jalan yang berseberangan. Dari bahasa asing, kita belajar membuka diri kepada dunia. Dari bahasa Indonesia, kita belajar menjaga akar, martabat, dan kepribadian budaya sendiri.

Kehadiran bahasa Indonesia di luar negeri seyogianya dibaca sebagai peristiwa kebahasaan sekaligus peristiwa budaya. Melalui bahasa Indonesia, orang asing dapat mengenal Indonesia dari sisi yang lebih dekat: kesantunannya, kehangatannya, dan kebiasaannya merawat hubungan. Di sanalah harapan itu tumbuh. Bahasa Indonesia dapat terus melangkah melampaui batas negara dengan wajah yang ramah, percaya diri, dan bermartabat.***

Oleh: Dr. Kelik Wachyudi, M.Hum.

Dosen FKIP Universitas Singaperbangsa Karawang

Related Articles

Back to top button