
KARAWANG, RAKA- Dugaan pungutan terhadap siswa di SDN Tambaksumur 4, Kabupaten Karawang, dikeluhkan orang tua murid. Persoalan tersebut bahkan berujung pada keputusan salah seorang orang tua memindahkan anaknya ke sekolah lain.
Orang tua siswa Tamin mengatakan, persoalan bermula ketika anaknya mengaku diminta menyerahkan uang sebesar Rp 20 ribu dan enam karung tanah untuk kebutuhan sekolah. Informasi tersebut disampaikan anaknya kepada keluarga setelah pulang sekolah.
“Guru meminta uang Rp 20 ribu dan enam karung tanah. Katanya untuk menguruk halaman sekolah, sedangkan uang Rp 20 ribu untuk memperbaiki jembatan di depan sekolah,” katanya, Kamis (17/9).
Mendengar hal tersebut, Tamin mempertanyakan alasan adanya permintaan tersebut. Menurutnya, SDN merupakan sekolah negeri yang mendapatkan anggaran dari pemerintah sehingga kebutuhan sekolah semestinya direncanakan melalui mekanisme anggaran yang tersedia.
“Saya tanya, untuk apa? Katanya untuk menguruk sekolah dan memperbaiki jembatan. Saya berpikir, ini sekolah negeri, kenapa masih meminta kepada anak murid?” ujarnya.
Tamin kemudian dipanggil oleh pihak sekolah dan membicarakan persoalan tersebut. Dalam pertemuan itu, ia kembali mempertanyakan permintaan uang dan material kepada siswa.
Menurut Tamin, pihak sekolah menjelaskan bahwa permintaan tersebut dilakukan karena anggaran dari pemerintah belum turun. Namun, alasan tersebut tetap dipersoalkannya karena menurut dia kebutuhan sekolah tidak semestinya dibebankan kepada siswa.
Persoalan semakin memanas setelah Tamin mengaku mendapat respons yang membuatnya tersinggung. Ia menyebut dirinya diminta untuk memindahkan anak apabila tidak menerima kondisi tersebut.
“Komitenya marah. Katanya, ‘Kamu mau jadi cucuk di sini, mau jadi duri? Kalau tidak senang, pindahkan anak.’ Saya sebagai orang tua tersinggung. Ya sudah, saya pindahkan,” ungkapnya.
Tamin akhirnya memindahkan anaknya dari SDN Tambaksumur 4. Anaknya diketahui duduk di kelas 6 dan kini pindah ke SDN Tambaksumur 2. Ia juga mempertanyakan mekanisme komunikasi antara sekolah dan orang tua siswa. Menurutnya, tidak semua orang tua murid dilibatkan dalam rapat terkait permintaan tersebut.
“Saya tidak merasa diundang dan tidak ada surat undangan. Istri saya juga tidak tahu. Informasinya hanya disampaikan melalui grup, sementara tidak semua orang tua punya atau aktif menggunakan handphone,” katanya.
Tamin mengaku keberatan apabila permintaan kepada siswa dilakukan tanpa adanya pembahasan yang melibatkan seluruh orang tua murid. Ia menilai pihak sekolah dan komite seharusnya memberikan pemahaman kepada orang tua secara terbuka, termasuk mengenai kondisi anggaran sekolah.
“Kalau memang belum ada anggaran, seharusnya dijelaskan baik-baik. Jangan malah marah-marah. Beri pengertian dan pemahaman kepada orang tua,” tuturnya.
Ia berharap, persoalan tersebut tidak berdampak kepada siswa lainnya. Namin juga meminta agar kebutuhan sekolah dapat diperjuangkan melalui bantuan pemerintah sehingga tidak membebani orang tua, terutama masyarakat yang kondisi ekonominya berbeda-beda.
“Jangan sampai karena orang tua tidak mampu, kemudian menjadi beban. Kalau memang membutuhkan anggaran, seharusnya sekolah mengajukan bantuan melalui dinas,”ungkapnya.
Hingga berita ini sampai pada meja redaksi, Kepala SDN Tambaksumur 4 Uun, belum memberikan keterangan. (zal)



