
PURWAKARTA, RAKA – Musim kemarau yang berkepanjangan kembali memunculkan persoalan krisis air bersih di Kabupaten Purwakarta. Di Desa Batutumpang, Kecamatan Tegalwaru, warga terpaksa memanfaatkan kubangan bekas galian tanah sebagai sumber air untuk mandi dan mencuci setelah sumur-sumur di rumah mereka mengering.
Sudah sekitar tiga bulan terakhir, dua kubangan yang masih menyisakan genangan air menjadi tempat bergantung ratusan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski airnya keruh kecokelatan, bercampur lumpur, lumut, dan sampah plastik, warga tetap menggunakannya karena tidak memiliki sumber air lain.
Setiap hari, warga datang bergantian membawa ember, jeriken, hingga pakaian kotor. Sebagian mencuci pakaian di tepi kubangan, sementara anak-anak terlihat mandi menggunakan air yang diambil dari genangan tersebut.
Nina (31), salah seorang warga Desa Batutumpang, mengatakan keluarganya mulai kehilangan akses air bersih setelah sumur di rumah mengering sekitar tiga bulan lalu.
“Sudah tiga bulan enggak ada air. Sumur kering. Mau enggak mau mandi sama nyuci di sini,” kata Nina, Rabu (22/7/2026).
Menurut dia, air kubangan hanya digunakan untuk mandi dan mencuci. Untuk kebutuhan memasak dan air minum, keluarganya harus membeli air isi ulang seharga Rp 5.000 per galon atau air mineral sekitar Rp 20.000 per galon.
Nina mengaku pemerintah desa sesekali menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki. Namun, bantuan tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan warga selama musim kemarau.
Ia berharap distribusi air bersih dapat dilakukan lebih rutin agar masyarakat tidak lagi bergantung pada air kubangan.
“Takut sih, tapi enggak ada lagi air. Alhamdulillah sampai sekarang belum ada yang sakit. Harapan kami pemerintah bisa kirim air bersih seminggu dua kali,” ujarnya.
Kondisi serupa dialami Solihah (45). Setiap musim kemarau, ia harus berjalan sekitar 30 menit dari rumah menuju kubangan untuk mencuci pakaian dan terkadang mandi.
“Kalau kemarau sudah biasa begini. Enggak ada air di rumah. Nyuci di sini, mandi juga kadang di sini,” katanya.
Selain memanfaatkan air kubangan, Solihah masih harus membeli air bersih untuk memasak, mencuci peralatan makan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Satu toren air bersih dijual sekitar Rp 60.000.
Menurut Solihah, persoalan kekeringan terus berulang setiap tahun. Karena itu, ia berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi jangka panjang melalui pembangunan sarana air bersih.
“Harapannya pemerintah bisa bikin sumur atau jet pump supaya kami punya air bersih seperti kampung-kampung lain,” ucapnya.
Sementara itu, Wawan (48) mengaku setiap hari harus beberapa kali bolak-balik mengangkut air dari kubangan menuju rumahnya setelah sumur mengering sejak sekitar dua bulan lalu.
“Sudah dua bulan kosong, sumur kering sejak enggak hujan. Ini sudah tiga kali bolak-balik bawa air buat mandi sama nyuci piring,” ujar Wawan.
Ia menjelaskan, air dari kubangan hanya dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci, sedangkan kebutuhan air minum dipenuhi dengan membeli air galon isi ulang.
Fenomena krisis air bersih di Desa Batutumpang bukan kali pertama terjadi. Setiap musim kemarau, warga di wilayah tersebut kembali menghadapi kesulitan mendapatkan air akibat terbatasnya sumber air bersih. Kondisi ini membuat masyarakat berharap adanya infrastruktur penyediaan air bersih yang permanen agar mereka tidak lagi bergantung pada kubangan saat kemarau tiba. (yat)



