Nasib 9 Siswa SMAN 1 Purwakarta yang Viral: Tak Dikeluarkan, Wajib Bina Karakter 3 Bulan

PURWAKARTA, RAKA – Kasus viral yang menyeret sejumlah siswa SMAN 1 Purwakarta kini memasuki tahap pembinaan. Dinas Pendidikan Jawa Barat menegaskan, sanksi tidak diarahkan pada pengeluaran siswa, melainkan pembentukan ulang karakter melalui program khusus.
Kepala Disdik Jabar, Purwanto, menyatakan sembilan siswa yang terlibat akan menjalani pembinaan intensif selama tiga bulan.
“Mereka tidak dikeluarkan, tapi tetap dididik. Hak belajar mereka tetap ada, namun ada proses pembinaan yang harus dijalani,” ujarnya saat di SMAN 1 Purwakarta, Senin (20/4).
Selama masa tersebut, para siswa diwajibkan mengikuti kegiatan sosial di sekolah dan masyarakat, mendapatkan pendampingan psikolog, serta berada dalam pengawasan harian wali kelas. Orang tua pun tidak lepas dari tanggung jawab, karena diwajibkan hadir setiap pekan untuk evaluasi bersama pihak sekolah.
“Mereka tetap belajar, tapi juga dibina. Orang tua harus ikut terlibat, supaya perubahan itu benar-benar terjadi,” kata Purwanto.
Meski mengedepankan pembinaan, Disdik Jabar juga memberi sinyal tegas bahwa langkah lebih disiplin bisa diambil jika diperlukan.
“Untuk opsi barak, itu masih kita pertimbangkan, tergantung perkembangan mereka,” tambahnya.
Di balik sanksi tersebut, Purwanto juga membeberkan kronologi kejadian yang memicu viralnya kasus ini. Ia menjelaskan bahwa peristiwa bermula dari kegiatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang dibimbing oleh seorang guru, Bu Atun.
Menurutnya, saat itu siswa mendapat tugas kelompok bertema keberagaman, seperti membuat makanan khas daerah, menampilkan tarian, hingga menyanyikan lagu daerah.
“Awalnya pembelajaran berjalan seperti biasa, anak-anak dibagi kelompok untuk presentasi,” ujarnya.
Namun, terjadi perubahan jadwal presentasi. Kelompok yang seharusnya tampil di giliran kedua dipindahkan ke sesi terakhir. Sembilan siswa yang kemudian viral diketahui masuk dalam kelompok yang mengalami perubahan tersebut.
“Ketika dipindah ke giliran terakhir, mereka tetap mengikuti pembelajaran. Saat presentasi juga berjalan normal, tidak ada masalah,” jelasnya.
Bahkan, lanjut Purwanto, para siswa tersebut sempat menunjukkan sikap baik di hadapan guru.
“Mereka presentasi dengan baik, terlihat biasa saja, bahkan sempat foto bersama guru,” katanya.
Situasi berubah setelah guru keluar dari kelas. Dalam kondisi tanpa pengawasan itulah, aksi tidak pantas terjadi dan direkam, hingga akhirnya menyebar luas di media sosial.
“Tahu-tahunya muncul video itu. Kalau melihat kejadiannya, sulit disebut tidak sengaja,” tegas Purwanto.
Purwanto menekankan bahwa kasus ini menjadi pengingat penting bahwa pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga sikap dan etika. Ia menyebut, sanksi yang diberikan saat ini bukan sekadar hukuman, melainkan upaya membentuk kembali karakter siswa.
“Ini bukan hanya soal pelanggaran, tapi bagaimana kita memperbaiki. Mereka harus berubah, itu yang utama,” ujarnya. (yat)



