KARAWANG, RAKA – Pemadaman listrik yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di wilayah Karawang, ramai-ramai warga keluhkan pemadaman listrik ini. Dalam 10 hari terakhir, sebanyak tiga kali mengalami pemadaman dengan durasi waktu hingga 4 jam.
Salah seorang penjahit topi di Kotabaru, Junaedi, mengaku sangat terdampak dengan pemadaman listrik yang terjadi hampir setiap hari. Menurutnya, sebagian besar proses produksi bergantung pada mesin jahit dan peralatan yang menggunakan tenaga listrik.
“Sudah beberapa hari ini listrik sering padam. Kami sangat dirugikan karena pekerjaan jadi terhambat. Kalau listrik mati, mesin tidak bisa digunakan dan produksi otomatis berhenti,”katanya, Kamis (18/6).
Junaedi mengatakan, kondisi tersebut membuat target produksi sulit tercapai. Akibatnya, penghasilan para pekerja ikut menurun karena jumlah topi yang berhasil diselesaikan jauh berkurang dibanding hari-hari normal.
“Biasanya dalam sehari bisa menyelesaikan banyak pesanan. Sekarang hasilnya menurun karena waktu kerja terpotong akibat pemadaman. Penghasilan kami juga ikut berkurang,” katanya.
Ia menilai pemadaman yang terjadi berulang kali sangat memberatkan masyarakat, terlebih seluruh pelanggan tetap diwajibkan membayar tagihan listrik tepat waktu.
“Kami selalu membayar listrik tepat waktu, tetapi ketika listrik sering padam justru kami yang menanggung kerugiannya. Pesanan jadi terlambat, pekerjaan terganggu, sementara kebutuhan hidup tetap harus berjalan,” keluhnya.
Menurut Junaedi, jika kondisi tersebut terus berlanjut, bukan hanya pekerja yang terdampak, tetapi juga keberlangsungan usaha konveksi yang menjadi sumber penghidupan banyak warga di wilayah tersebut.
“Kami berharap ada penjelasan dan solusi dari PLN. Jangan sampai pemadaman yang terus berulang membuat usaha kecil semakin terpuruk dan pekerja kehilangan penghasilan,” tegasnya.
Keluhan serupa disampaikan pengusaha konveksi topi, Suryana. Ia mengaku pemadaman listrik telah mengganggu jadwal produksi dan pengiriman barang kepada para pelanggan.
“Pemadaman listrik ini sangat merugikan. Produksi tidak bisa berjalan normal sehingga pengiriman topi kepada pelanggan sering tidak tepat waktu,” ujarnya.
Menurut Suryana, keterlambatan pengiriman dapat berdampak pada kepercayaan pelanggan dan berpotensi mengurangi pesanan di masa mendatang. Padahal industri konveksi sangat bergantung pada ketepatan waktu produksi.
“Kalau pesanan terlambat sampai ke pelanggan, yang dipertaruhkan bukan hanya keuntungan, tetapi juga kepercayaan konsumen. Jika kondisi ini terus terjadi, kami khawatir pelanggan beralih ke produsen lain,” katanya.
Ia berharap PLN dapat segera melakukan evaluasi dan memberikan kepastian terkait penyebab maupun jadwal pemadaman agar pelaku usaha bisa mengatur proses produksi dengan lebih baik.
“Kalau memang ada perbaikan jaringan, sampaikan secara terbuka dan jauh-jauh hari. Jangan sampai pelaku usaha dan pekerja terus menjadi pihak yang menanggung kerugian akibat pemadaman yang berulang,”tutupnya.
Keluhan juga datang dari Nurlaila (30) warga Desa Cengkong, Kecamatan Purwasari. Ia mengungkapkan, pemadaman listrik pertama pada 9 Juni 2026 terjadi sore mulai pukul 16.20 WIB hingga 19.30 WIB. Kemudian, Rabu (17/6) mulai pukul 10.30 WIB dampai pukul 13.30 WIB dan hari ini mulai listrik pada pukul 10.00 WIB.
“Sangat menganggu aktivitas, aku ada bimbel anak-anak sekolah, kondisi gini terpaksa dipulangkan lebih cepat,” kata dia.
Keluhan itu juga disampaikan Wendi (44), warga Kalangsari, Rengasdengklok atas pemadaman listrik. Ia menyebut usaha foto kopi miliknya terganggu akibat pemadaman listrik tersebut.
“Ganggu aktivitas bangat, untung aja sekolah udah mulai pada libur jadi engga terlalu banyak kerjaan,” kata dia.
Selain itu, Koordinator PLN Cikampek Hery saat dikonfirmasi yang bersangkutan belum memberikan keterangan. (zal)



