Purwakarta
Trending

Krisis Manggis Purwakarta: Nilai Kebun Anjlok ke Rp300 Ribu

PURWAKARTA, RAKA – Krisis produksi manggis yang terjadi selama dua tahun terakhir tidak hanya membuat hasil panen menurun, tetapi juga menghantam perekonomian petani di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Pendapatan petani merosot tajam, bahkan nilai jual kebun manggis yang biasanya mencapai belasan juta rupiah kini hanya dihargai ratusan ribu rupiah.

Kondisi tersebut dirasakan petani manggis di Kecamatan Kiarapedes, salah satu sentra produksi manggis di Purwakarta. Zaeng, salah seorang petani, mengaku sebagian besar pohon manggis di kebunnya gagal berbuah selama dua musim panen terakhir.

“Kalau dari 100 pohon, paling satu pohon yang berbuah, itu pun hasilnya tidak maksimal,” ujar Zaeng, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, minimnya produksi membuat harga jual kebun manggis ikut terjun bebas. Jika pada musim panen normal satu kebun dapat dijual dengan nilai Rp8 juta hingga Rp15 juta, kini nilainya hanya sekitar Rp300 ribu karena hampir tidak ada buah yang bisa dipanen.

“Bayangkan saja, kita biasa jual itu sampai Rp15 juta, kemarin cuma Rp300 ribu. Karena memang enggak ada buahnya,” katanya.

Zaeng mengatakan mayoritas masyarakat di wilayahnya menggantungkan penghasilan dari komoditas manggis, selain kopi dan cengkeh. Karena itu, anjloknya hasil panen turut memengaruhi pendapatan keluarga petani.

Ia menduga perubahan pola cuaca menjadi penyebab utama pohon manggis gagal berbuah. Curah hujan yang masih tinggi hingga awal Juni dinilai menghambat proses pembentukan bunga yang menjadi awal munculnya buah.

Sementara itu, data Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Purwakarta menunjukkan produksi manggis memang mengalami penurunan signifikan dalam dua tahun terakhir. Pada 2024, produksi manggis mencapai 18.005 ton. Angka tersebut turun menjadi 2.737 ton pada 2025. Adapun hingga Januari-Mei 2026, produksi baru tercatat sebanyak 2.553 ton.

Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dispangtan Purwakarta, Kurnia Prawira Saputra, mengatakan data produksi tahun 2026 belum bisa dibandingkan langsung dengan tahun sebelumnya karena baru mencakup lima bulan pertama.

“Data 2026 ini baru lima bulan, jadi belum bisa dibandingkan secara apple to apple dengan data satu tahun penuh. Tapi memang dalam dua tahun terakhir produksi manggis sedang sulit,” ujarnya.

Kurnia menjelaskan tanaman manggis membutuhkan periode cuaca panas untuk merangsang pembungaan. Sebaliknya, curah hujan yang tinggi membuat tanaman lebih banyak menghasilkan tunas dan daun dibandingkan bunga yang akan berkembang menjadi buah.

“Kalau terus diguyur hujan, yang muncul bukan buah tetapi daun baru. Padahal musim panen manggis berlangsung sekitar Oktober hingga Maret,” jelasnya.

Meski demikian, ia optimistis musim panen mendatang akan lebih baik. Cuaca yang mulai memasuki musim panas diharapkan mampu memicu pembungaan sehingga produksi manggis Purwakarta kembali meningkat.

“Sekarang cuaca sangat panas, bahkan menyengat. Mudah-mudahan ini menjadi pertanda baik sehingga panen tahun ini bisa lebih melimpah,” ucap Kurnia.

Petani pun berharap kondisi cuaca pada musim kemarau tahun ini lebih mendukung pertumbuhan tanaman sehingga produksi manggis Purwakarta dapat kembali pulih setelah mengalami penurunan selama dua tahun berturut-turut. (yat)

Related Articles

Back to top button