Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
Purwakarta
Trending

Siswi SD Purwakarta Belajar Masak & Menjahit Tradisional

PURWAKARTA, RAKA – Sejumlah siswi sekolah dasar (SD) di Kabupaten Purwakarta dikenalkan dengan keterampilan dasar rumah tangga melalui kegiatan outing class di Taman Anak Surawisesa. Mulai dari menanak nasi menggunakan tungku kayu bakar, memasak makanan tradisional, menjahit pakaian, hingga menganyam bambu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali tradisi Sunda kepada generasi muda.

Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap akhir pekan sebagai bagian dari program penguatan pendidikan karakter dan pelestarian kebudayaan yang dijalankan Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta bersama Komunitas Awi Kadaek.

Wakil Ketua Komunitas Awi Kadaek, Yulia Herawati, mengatakan kegiatan untuk jenjang SD tersebut merupakan pengembangan dari program yang telah berjalan sejak 2012. Sebelumnya, kegiatan komunitas lebih banyak berfokus pada kaulinan barudak atau permainan tradisional, kemudian berkembang dengan pengenalan keterampilan tradisional dalam kehidupan sehari-hari.

“Untuk kegiatan hari ini, anak-anak belajar kaparigelan istri, yaitu keterampilan yang biasanya dilakukan oleh perempuan atau seorang ibu. Di antaranya menanak nasi secara tradisional, memasak oncom gondrong, menjahit, dan menganyam,” kata Yulia.

Dalam praktik menanak nasi, para siswa diperkenalkan dengan peralatan tradisional seperti dulang, hihid atau kipas, hawu atau tungku, aseupan, hingga boboko. Mereka juga diajarkan memasak menggunakan kayu bakar, berbeda dengan kebiasaan memasak masa kini yang lebih banyak menggunakan peralatan modern.

Menurut Yulia, pengenalan keterampilan tersebut penting karena tidak semua anak zaman sekarang mengetahui cara memasak secara tradisional maupun memahami fungsi peralatan yang dahulu lazim digunakan dalam rumah tangga.

“Anak-anak sekarang sudah tidak semuanya tahu cara menanak nasi seperti zaman dahulu. Mereka mungkin belum mengenal apa itu hawu, aseupan, ataupun boboko. Karena itu, cara-cara tradisional ini perlu dikenalkan kembali supaya tidak sampai punah,” ujarnya, Minggu (18/10/2026).

Selain memasak dan menjahit, para siswa juga belajar menganyam bambu menjadi pot serbaguna. Hasil kerajinan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media tanam untuk mendukung program Tatanen di Bale Atikan (TdBA) di sekolah masing-masing.

Yulia berharap kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi pengalaman sesaat bagi siswa, tetapi juga menumbuhkan pemahaman dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagian dari Pendidikan Karakter

Analis Sumber Daya Manusia Aparatur Ahli Muda Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Rusi Iskanda, menjelaskan kegiatan outing class tersebut merupakan bagian dari program penguatan pendidikan karakter dalam rangkaian Tujuh Poe Atikan Istimewa.

Melalui program tersebut, siswa dari sekolah-sekolah dasar di Purwakarta dijadwalkan mengikuti kegiatan pengenalan kebudayaan di Taman Surawisesa setiap akhir pekan. Pengaturan peserta dilakukan melalui koordinator wilayah (korwil) masing-masing.

“Ini salah satu upaya konservasi kebudayaan, khususnya budaya Sunda. Anak-anak kita kenalkan kembali dengan permainan tradisional yang semakin terpinggirkan karena sekarang banyak yang lebih sering bermain gadget,” kata Rusi.

Ia menjelaskan, pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui permainan tradisional, tetapi juga melalui program keutamaan bagi anak perempuan dan program kautamaan bagi anak laki-laki. Untuk anak perempuan, materi yang dikenalkan mencakup keterampilan dasar seperti menanak nasi, memasak, dan menjahit.

Menurut Rusi, keterampilan tersebut merupakan bekal dasar yang diharapkan bermanfaat ketika anak-anak tumbuh dewasa. Selain itu, keterampilan membuat kerajinan juga dapat mendukung kreativitas siswa, termasuk dalam menyediakan media tanam untuk program TdBA tanpa harus selalu membelinya.

“Apalagi di Purwakarta ada program TdBA, sehingga anak-anak bisa kreatif membuat media tanamnya sendiri, tidak harus membeli,” ujarnya.

Program outing class ini telah berjalan sejak 2012. Dengan jumlah sekolah dasar di Purwakarta yang mencapai lebih dari 400 sekolah, pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran. Setiap sekolah mendapat jadwal kunjungan satu kali dalam setahun.

Melalui kegiatan tersebut, Dinas Pendidikan bersama Komunitas Awi Kadaek berharap generasi muda semakin mengenal kebudayaan Sunda, memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, serta mampu menjaga keterampilan tradisional agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.(yat)

Related Articles

Back to top button