
PURWAKARTA, RAKA – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Purwakarta memperkenalkan teknologi penyaringan air irigasi bertenaga surya berbasis Internet of Things (IoT) kepada Kelompok Tani Tani Mukti di Desa Sumber Sari, Kabupaten Purwakarta. Teknologi ini dikembangkan untuk membantu petani mengatasi persoalan air irigasi keruh sekaligus memantau debit dan kualitas air secara digital.
Pengenalan teknologi tersebut dilakukan melalui Workshop Pengenalan dan Pemanfaatan Teknologi Pengelolaan Air Pertanian, Jumat (2/10/2026), di Aula Desa Sumber Sari. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Berbasis Kepakaran Bidang Ilmu yang melibatkan 10 petani sebagai peserta.
Teknologi yang diperkenalkan bernama Portable Filtration Smart Irrigation System, yakni perangkat penyaring dan pemompa air portabel yang menggunakan energi matahari serta dilengkapi sistem pemantauan berbasis IoT.
Ketua tim PkM UPI Kampus Purwakarta, Dewi Indriati Hadi Putri, S.Pd., M.T., mengatakan teknologi tersebut dirancang untuk membantu petani mengambil keputusan pengairan berdasarkan data, bukan hanya mengandalkan perkiraan dan pengalaman.
“Selama ini petani mengatur air berdasarkan pengamatan dan pengalaman. Melalui alat ini, kami ingin petani bisa melihat langsung berapa debit air yang masuk dan bagaimana kualitasnya, sehingga keputusan kapan dan berapa banyak mengairi sawah bisa didasarkan pada data,” ujarnya, Rabu (28/10/2026).
Kelompok Tani Tani Mukti mengelola sekitar lima hektare sawah yang ditanami padi varietas Ciherang dan Inpari 32. Selama ini, pasokan air berasal dari aliran Situ Wanayasa yang melewati kawasan rawan pencemaran sebelum mencapai lahan pertanian.
Air kemudian disalurkan melalui saluran tanah dan pipa sepanjang kurang lebih 350 meter. Untuk menyaring kotoran, petani sebelumnya mengandalkan penyaring sederhana berbahan ijuk.
Kondisi tersebut menimbulkan persoalan berbeda pada setiap musim. Saat musim hujan, air yang membawa sedimen dan lumpur membuat saluran mudah tersumbat hingga memicu genangan. Sebaliknya, ketika musim kemarau, debit air menurun sehingga kebutuhan pengairan tanaman tidak selalu terpenuhi.
Pengaturan distribusi air antarpematang sawah juga masih mengandalkan pengamatan visual tanpa pencatatan data yang terdokumentasi.
Produktivitas padi kelompok tani tersebut rata-rata sekitar 4,2 ton gabah kering panen per hektare. Angka itu masih berada di bawah potensi hasil yang diperkirakan mencapai 5,5–6 ton per hektare.
Melalui penerapan teknologi filtrasi dan pemantauan debit, tim UPI berharap pengelolaan air dapat dilakukan lebih terukur, sementara penyaringan bertingkat membantu mengurangi pasir, lumpur, dan kotoran organik yang terbawa aliran irigasi.
Portable Filtration Smart Irrigation System dirancang menggunakan panel surya berkapasitas 240 Wp, baterai 24 volt, inverter, dan pompa air. Sistem tersebut memungkinkan perangkat beroperasi dengan memanfaatkan energi matahari tanpa bergantung langsung pada pasokan listrik PLN atau bahan bakar selama kebutuhan energinya terpenuhi.
Air dipompa melalui rangkaian filter bertingkat sebelum dialirkan menuju sawah. Seluruh perangkat dipasang pada rangka beroda agar mudah dipindahkan ke titik pengairan yang membutuhkan.
Sistem kendali dan pemantauan menggunakan mikrokontroler ESP32-S3 yang terhubung dengan sensor debit air, sensor zat padat terlarut atau total dissolved solids (TDS), serta sensor pemantau energi.
Data pengukuran dapat ditampilkan melalui layar pada perangkat maupun dipantau dari jarak jauh menggunakan dasbor daring. Dengan demikian, petani dapat memperoleh informasi mengenai debit air dan nilai TDS tanpa hanya mengandalkan pengamatan secara kasatmata.
Meski demikian, nilai TDS merupakan salah satu indikator kandungan zat terlarut dan tidak dapat digunakan sendirian untuk memastikan air bebas dari seluruh jenis pencemar.
Workshop dilaksanakan melalui pengenalan komponen dan praktik langsung. Para peserta mempelajari cara kerja panel surya, pompa, filter, sensor, serta panel kendali sebelum mencoba mengoperasikan perangkat.
Dalam sesi praktik, petani dilatih menyalakan dan mematikan sistem, membaca data debit serta kualitas air melalui layar dan dasbor, membersihkan filter, melakukan perawatan rutin, hingga menangani gangguan ringan.
Program ini merupakan kelanjutan dari enam kali diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) yang telah dilaksanakan bersama perwakilan petani sejak Juni 2026.
Rangkaian diskusi tersebut mencakup identifikasi kebutuhan lapangan, perancangan perangkat, pengujian filtrasi, hingga persiapan penerapan teknologi. Dalam proses itu, disepakati pula pembentukan Tim Operator Irigasi dan Filtrasi Desa yang bertugas melakukan pemantauan harian dan merawat perangkat.
Antusiasme peserta terlihat ketika mereka bergantian mencoba alat dan membaca data pada layar. Informasi yang sebelumnya hanya diperkirakan berdasarkan kondisi aliran kini dapat diamati melalui angka hasil pengukuran sensor.
Salah seorang anggota Kelompok Tani Tani Mukti mengatakan penggunaan energi surya berpotensi membantu mengurangi ketergantungan petani terhadap mesin berbahan bakar diesel.
“Biasanya kalau mau memompa air harus pakai mesin diesel, biaya solarnya lumayan berat. Alat ini pakai tenaga matahari, jadi kami sangat terbantu. Cara pakainya juga ternyata tidak sulit setelah dicoba langsung,” katanya.
Petani juga berharap penyaringan dapat membantu mengurangi lumpur dan kotoran yang masuk ke saluran irigasi, terutama saat musim hujan. Sementara itu, pemantauan debit diharapkan mendukung pembagian air yang lebih terukur antarlahan.
Dewi menegaskan, keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya ditentukan oleh perangkat yang dikembangkan, tetapi juga kemampuan petani mengoperasikan dan merawatnya secara mandiri.
“Teknologi ini baru berarti jika petani sendiri yang mampu mengoperasikan dan merawatnya. Karena itu pelatihan hari ini kami fokuskan pada praktik langsung, dan ke depan kami susun SOP bersama agar alat tetap terpakai setelah pendampingan selesai,” tutur Dewi.
Tim PkM UPI Kampus Purwakarta dipimpin Dewi Indriati Hadi Putri bersama dosen Ir. Nuur Wachid Abdulmajid, M.Pd., IPM., ASEAN Eng.; Mahmudah Salwa Gianti, S.Si., M.Eng.; dan Hafiyyan Putra Pratama, S.ST., M.T. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Aulia Aufa Zahron, Kaylla Asyifa, dan Yasir Ahmadin Moersyid dalam perancangan perangkat hingga pendampingan lapangan.
Program tersebut didanai melalui Dana RKAT Universitas Pendidikan Indonesia Tahun Anggaran 2026.
Tahap selanjutnya mencakup pendampingan penggunaan perangkat di lahan, pengukuran kinerja filtrasi dan debit air, serta finalisasi standar operasional prosedur (SOP) sebelum alat diserahterimakan kepada kelompok tani.
Penerapan teknologi ini diharapkan menjadi alternatif pengelolaan air pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan. Upaya tersebut juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan keenam mengenai air bersih dan sanitasi serta tujuan kedua tentang penghapusan kelaparan dan ketahanan pangan. (yat)



