Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
Purwakarta
Trending

Warga Purwakarta Soroti Anggaran Gapura di Tengah Kemiskinan

PURWAKARTA, RAKA – Pembangunan tiga gapura berkonsep Gapura Melati di Kabupaten Purwakarta menuai pertanyaan dari warga. Di tengah upaya mempercantik wajah perkotaan, masyarakat menilai pemerintah daerah perlu memastikan pembangunan tersebut sejalan dengan kebutuhan mendesak warga, terutama menyangkut kesejahteraan, kondisi ekonomi, dan penanganan masyarakat miskin.

Tiga gapura tersebut dibangun di dua kawasan, yakni satu gapura di Jalan Dr. Mr. Kusumahatmaja, tepatnya di samping Gedung Dakwah, serta sepasang gapura di perempatan Pemda Purwakarta.

Pembangunan itu menggunakan bata terakota dari Plered yang disebut sebagai upaya mengangkat potensi produk lokal sekaligus mendorong perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Namun, di balik tujuan penataan kota dan promosi produk lokal tersebut, muncul pertanyaan mengenai urgensi pembangunan gapura dibandingkan berbagai kebutuhan masyarakat yang dinilai masih memerlukan perhatian pemerintah.

Warga mempertanyakan sejauh mana pembangunan fasilitas estetika itu menjadi prioritas ketika persoalan ekonomi rumah tangga, kesejahteraan masyarakat berpenghasilan rendah, dan kebutuhan dasar warga masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah.

Herman, salah seorang warga, menilai pembangunan infrastruktur yang berorientasi pada estetika perlu ditempatkan secara proporsional dengan kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi warga sebelum menentukan prioritas pembangunan. Penataan kawasan memang penting, tetapi pemenuhan kebutuhan masyarakat yang menghadapi kesulitan ekonomi juga tidak boleh dikesampingkan.

“Pembangunan itu tentu boleh, apalagi kalau tujuannya memperindah kota. Tetapi pemerintah juga harus melihat kebutuhan masyarakat. Jangan sampai yang terlihat bagus secara fisik justru lebih diperhatikan, sementara persoalan kesejahteraan dan masyarakat miskin belum tertangani secara maksimal,” ujar Herman, Rabu (28/10/2026).

Senada, Jaelani mempertanyakan urgensi pembangunan gapura di tengah beragam persoalan yang membutuhkan perhatian pemerintah. Ia menilai keberhasilan pembangunan daerah semestinya tidak hanya diukur dari perubahan tampilan kota, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Menurut Jaelani, pemerintah perlu memastikan setiap penggunaan anggaran memberikan manfaat yang jelas bagi publik. Pembangunan yang bersifat estetika, kata dia, seharusnya berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan, memperkuat ekonomi warga, serta membantu masyarakat yang membutuhkan.

“Yang perlu menjadi perhatian, apa urgensi pembangunan gapura ini bagi masyarakat? Kita tentu ingin Purwakarta lebih tertata, tetapi kebutuhan warga juga harus menjadi prioritas. Persoalan ekonomi, kesejahteraan, dan masyarakat miskin perlu mendapat perhatian serius,” kata Jaelani.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Purwakarta, Entin Suryatin, menjelaskan pembangunan gapura menggunakan bata terakota dari Plered sebagai bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap produk unggulan lokal.

Menurut Entin, pembangunan tersebut tidak hanya bertujuan memperindah kawasan perkotaan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan material lokal dalam pembangunan fasilitas publik.

“Pembangunan gapura ini menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap potensi UMKM lokal, khususnya produk terakota dari Plered. Kami ingin material lokal bisa dimanfaatkan dalam pembangunan sekaligus memberikan dampak bagi pelaku usaha di daerah,” ujar Entin, Selasa (27/10/2026).

Tiga gapura itu mengusung konsep Gapura Melati yang dicanangkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Desainnya dilengkapi elemen lampu Binokasih berbentuk mahkota kerajaan sebagai bagian dari identitas visual kawasan.

Satu gapura berada di Jalan Dr. Mr. Kusumahatmaja, di samping Gedung Dakwah. Adapun dua gapura lainnya dibangun berpasangan dalam satu kawasan di perempatan Pemda Purwakarta, termasuk pekerjaan taman median jalan.

Berdasarkan data yang disampaikan Disperkim, pembangunan gapura beserta taman median jalan di perempatan Pemda memiliki pagu anggaran sekitar Rp580 juta. Sementara itu, gapura di samping Gedung Dakwah memiliki pagu sekitar Rp248 juta.

Selain gapura, Pemkab Purwakarta juga mengalokasikan anggaran untuk pembangunan taman baru, yakni Taman Kapten Halim di kawasan Ranca Darah sekitar Rp247 juta, Taman Kemuning sekitar Rp99 juta, serta taman di kawasan Salem sekitar Rp138 juta.

Penggunaan terakota Plered dalam pembangunan gapura diharapkan dapat memberikan peluang bagi pelaku UMKM lokal. Namun, manfaat ekonomi tersebut perlu terlihat secara nyata, baik melalui keterlibatan usaha lokal maupun dampaknya terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. (yat)

Related Articles

Back to top button