Tren Nikah Hemat di Purwakarta: Solusi Pasangan Muda Agar Tak Terbebani Biaya Resepsi

PURWAKARTA, RAKA – Program Nikah Hemat yang digagas Pemerintah Kabupaten Purwakarta bersama Kementerian Agama mulai mendapat perhatian generasi muda.
Di tengah tingginya biaya penyelenggaraan pesta pernikahan, sejumlah pasangan memilih melangsungkan akad nikah secara sederhana tanpa harus terbebani pengeluaran besar.
Salah satunya ditunjukkan pasangan Muhammad Jakaria dan Ayu Siti Nurmillah yang mengikuti program Nikah Hemat di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta.
Prosesi akad nikah berlangsung sederhana dan khidmat. Momen tersebut semakin istimewa karena disaksikan langsung oleh Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein.
Fenomena ini dinilai menjadi pertanda mulai bergesernya pola pikir sebagian generasi muda Purwakarta dalam memaknai pernikahan.
Jika sebelumnya pesta besar sering dianggap sebagai bagian penting dalam pernikahan, kini banyak pasangan mulai mengutamakan kesiapan membangun rumah tangga dibanding kemewahan resepsi.
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein mengatakan Program Nikah Hemat merupakan bentuk kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Purwakarta dan Kementerian Agama untuk membantu meringankan biaya pernikahan masyarakat.
Menurutnya, program tersebut juga bertujuan memberikan edukasi kepada calon pengantin agar tidak memaksakan diri menggelar pesta pernikahan dengan biaya yang melebihi kemampuan ekonomi keluarga.
“Semoga dengan Program Nikah Hemat ini dapat mengedukasi warga khususnya calon pengantin dari kalangan muda di Kabupaten Purwakarta agar tidak memaksakan diri mengadakan resepsi pernikahan, dengan biaya di luar kemampuan,” kata Om Zein, Senim (8/6).
Ia menilai pernikahan tidak harus identik dengan kemewahan. Yang lebih penting adalah kesiapan pasangan dalam membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis dan berkelanjutan.
Program Nikah Hemat sendiri diharapkan menjadi solusi bagi pasangan muda yang ingin menikah tanpa harus terbebani biaya besar. Selain lebih sederhana, dana yang dimiliki pasangan dapat dialihkan untuk kebutuhan yang lebih penting setelah menikah, seperti tempat tinggal, modal usaha, maupun tabungan keluarga.
Keikutsertaan Muhammad Jakaria dan Ayu Siti Nurmillah dalam program tersebut menjadi salah satu contoh bahwa konsep pernikahan sederhana mulai diterima oleh masyarakat. Di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks, banyak generasi muda mulai melihat bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak ditentukan oleh megahnya pesta, melainkan kesiapan menjalani kehidupan bersama. (yat)



